MENGENAL ALAT TANGKAP
PURSE SEIN

Purse Seine disebut
juga “pukat cincin” karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin untuk mana
“tali cincin” atau “tali kerut” di lalukan di dalamnya. Fungsi cincin dan tali
kerut / tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab
dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang tadinya tidak berkantong akan
terbentuk pada tiap akhir penangkapan.
Prinsip menangkap ikan dengan purse seine adalah
dengan melingkari suatu gerombolan ikan dengan jaring, setelah itu jaring
bagian bawah dikerucutkan, dengan demikian ikan-ikan terkumpul di bagian
kantong. Dengan kata lain dengan memperkecil ruang lingkup gerak ikan.
Ikan-ikan tidak dapat melarikan diri dan akhirnya tertangkap. Fungsi mata
jaring dan jaring adalah sebagai dinding penghadang, dan bukan sebagai pengerat
ikan.
Pentingnya pukat cincin dalam rangka usaha penangkapan
sudah tidak perlu diragukan untuk pukat cincin besar daerah penangkapannya
sudah menjangkau tempat-tempat yang jauh yang kadang melakukan penangkapan
mulai laut Jawa sampai selat Malaka dalam 1 trip penangkapan lamanya 30-40 hari
diperlukan berkisar antara 23-40 orang. Untuk operasi penangkapannya biasanya
menggunakan “rumpon”. Sasaran penangkapan terutama jenis-jenis ikan pelagik
kecil (kembung, layang, selat, bentong, dan lain-lain).
Hasil tangkapan terutama lemuru, kembung, slengseng,
cumi-cumi.
1. Karakteristik
Dengan menggunakan one boat sistem cara operasi
menjadi lebih mudah. Pada operasi malam hari lebih mungkin menggunakan lampu
untuk mengumpulkan ikan pada one boat sistem. Dengan one boat sistem
memungkinkan pemakaian kapal lebih besar, dengan demikian area operasi menjadi
lebih luas dan HP akan lebih besar, yang menyebabkan kecepatan melingkari
gerombolan ikan juga akan lebih besar. Oleh sebab itu dapat dikatakan tipe one
boat akan lebih ekonomis dan efisien jika kapal mekaniser, karena dengan
menggunakan sistem mekaniser pekerjaan menarik jaring, mengangkat jaring,
mengangkat ikan dll pekerjaan di dek menjadi lebih mudah.
2. Bahan dan Spesifikasinya
Bagian jaring
Nama bagian jaring ini belum mantap tapi ada yang
membagi 2 yaitu “bagian tengah” dan “jampang”. Namun yang jelas ia terdiri dari
3 bagian yaitu:
1.jaring utama, bahan nilon 210 D/9 #1”
2.jaring sayap, bahan dari nilon 210 D/6 #1”
3.jaring kantong, #3/4”
srampatan (selvedge), dipasang pada bagian pinggiran
jaring yang fungsinya untuk memperkuat jaring pada waktu dioperasikan terutama
pada waktu penarikan jaring. Bagian ini langsung dihubungkan dengan tali
temali. Srampatan (selvedge) dipasang pada bagian atas, bawah, dan samping
dengan bahan dan ukuran mata yang sama, yakni PE 380 (12, #1”). Sebanyak 20,25
dan 20 mata.
Tali temali
tali pelampung.
Bahan PE Ø 10mm, panjang 420m.
tali ris atas.
Bahan PE Ø 6mm dan 8mm, panjang 420m.
tali ris bawah.
Bahan PE Ø 6mm dan 8mm, panjang 450m.
tali pemberat.
Bahan PE Ø 10mm, panjang 450m.
tali kolor bahan.
Bahan kuralon Ø 26mm, panjang 500m.
tali slambar
bahan PE Ø 27mm, panjang bagian kanan 38m dan kiri 15m
Pelampung
Ada 2 pelampung dengan 2 bahan yang sama yakni
synthetic rubber. Pelampung Y-50 dipasang dipinggir kiri dan kanan 600 buah dan
pelampung Y-80 dipasang di tengah sebanyak 400 buah. Pelampung yang dipasang di
bagian tengah lebih rapat dibanding dengan bagian pinggir.
Pemberat
Terbuat dari timah hitam sebanyak 700 buah dipasang
pada tali pemberat.
Cincin
Terbuat dari besi dengan diameter lubang 11,5cm,
digantungkan pada tali pemberat dengan seutas tali yang panjangnya 1m dengan
jarak 3m setiap cincin. Kedalam cincin ini dilakukan tali kolor (purse line).
3. Hasil Tangkapan
Ikan yang menjadi tujuan utama penangkapan dari purse
seine adalah ikan-ikan yang “Pelagic Shoaling Species”, yang berarti ikan-ikan
tersebut haruslah membentuk shoal (gerombolan), berada dekat dengan permukaan
air (sea surface) dan sangatlah diharapkan pula agar densitas shoal itu tinggi,
yang berarti jarak antara ikan dangan ikan lainnya haruslah sedekat mungkin.
Dengan kata lain dapat juga dikatakan per satuan volume hendaklah jumlah individu
ikan sebanyak mungkin. Hal ini dapat dipikirkan sehubungan dengan volume yang
terbentuk oleh jaring (panjang dan lebar) yang dipergunakan.
Jenis ikan yang ditangkap dengan purse seine terutama
di daerah Jawa dan sekitarnya adalah : Layang (Decapterus spp), bentang,
kembung (Rastrehinger spp) lemuru (Sardinella spp), slengseng, cumi-cumi dll.
4. Daerah Penangkapan
Purse seine dapat digunakan dari fishing ground dengan
kondisi:
1)A spring layer of
water temperature adalah areal permukaan dari laut
2)Jumlah ikan
berlimpah dan bergerombol pada area permukaan air
3)Kondisi laut bagus
Purse seine banyak digunakan di pantai utara Jawa /
Jakarta, cirebon, Juwana dan pantai Selatan (Cilacap, Prigi, dll).
5. Alat Bantu Penangkapan
I. Lampu
Fungsi lampu untuk
penangkapan adalah untuk mengumpulkan kawanan ikan kemudian dilakukan operasi
penangkapan dengan menggunakan berbagai alat tangkap, seperti purse seine.Jenis
lampu yang digunakan bermacam-macam, seperti oncor (obor), petromaks, lampu listrik
(penggunaannya masih sangat terbatas hanya untuk usaha penangkapan sebagian
dari perikanan industri).
Ikan-ikan itu
tertarik oleh cahaya lampu kiranya tidak terlalu dipermasalahkan sebab adalah
sudah menjadi anggapan bahwa hampir semua organisme hidup termasuk ikan yang
media hidupnya itu air terangsang (tertarik) oleh sinar / cahaya (phototaxis
positif) dan karena itu mereka selalu berusaha mendekati asal / sumber cahaya
dan berkumpul disekitarnya.
II. Rumpon
Rumpon merupakan
suatu bangunan (benda) menyerupai pepohonan yang dipasang (ditanam) di suatu
tempat ditengah laut. Pada prinsipnya rumpon terdiri dari empat komponen utama,
yaitu : pelampung (float), tali panjang (rope) dan atraktor (pemikat) dan
pemberat (sinkers / anchor).
Rumpon umumnya
dipasang (ditanam) pada kedalaman 30-75 m. Setelah dipasang kedudukan rumpon
ada yang diangkat-angkat, tetapi ada juga yang bersifat tetap tergantung
pemberat yang digunakan.
Dalam praktek penggunaan rumpon yang mudah
diangkat-angkat itu diatur sedemikian rupa setelah purse seine dilingkarkan,
maka pada waktu menjelang akhir penangkapan, rumpon secara keseluruhan diangkat
dari permukaan air dengan bantuan perahu penggerak (skoci, jukung, canoes)
Untuk rumpon tetap atau rumpon dengan ukuran besar,
tidak perlu diangkat sehingga untuk memudahkan penangkapan dibuat rumpon mini
yang disebut “pranggoan” (jatim) atau “leret” (Sumut, Sumtim). Pada waktu
penangkapan mulai diatur begitu rupa, diusahakan agar ikan-ikan berkumpul
disekitar rumpon dipindahkan atau distimulasikan ke rumpon mini. Caranya ada
beberapa macam misalnya dengan menggiring dengan menggerak-gerakkan rumpon
induk dari atas perahu melalui pelampung-pelampungnya. Cara lain yang ditempuh
yaitu seakan-akan meniadakan rumpon induk untuk sementara waktu dengan cara
menenggelamkan rumpon induk atau mengangkat separo dari rumpo yang diberi daun
nyiur ke atas permukaan air. Terjadilah sekarang ikan-ikan yang semula
berkumpul di sekitar rumpon pindah beralih ke rumpon mini dan disini dilakukan
penangkapan.
Sementara itu bisa juga digunakan tanpa sama sekali
mengubah kedudukan rumpon yaitu dengan cara mengikatkan tali slambar yang
terdapat di salah satu kaki jaring pada pelampung rumpon, sedang ujung tali
slambar lainnya ditarik melingkar di depan rumpon. Menjelang akhir penangkapan
satu dua orang nelayan terjun kedalam air untuk mengusir ikan-ikan di sekitar
rumpon masuk ke kantong jaring. Cara yang hampir serupa juga dapat dilakukan
yaitu setelah jaring dilingkarkan di depan rumpon maka menjelang akhir
penangkapan ikan-ikan di dekat rumpon di halau engan menggunakan galah dari
satu sisi perahu.
6. Teknik Penangkapan (Sitting dan Moulting)
Pada umumnya jaring dipasang dari bagian belakang
kapal (buritan) sungguhpun ada juga yang menggunakan samping kapal. Urutan
operasi dapat digambarkan sebagai berikut :
a) Pertama-tama haruslah diketemukan gerombolan ikan
terlebih dahulu. Ini dapat dilakukan berdasarkan pengalaman-pengalaman, seperti
adanya perubahan warna permukaan air laut karena gerombolan ikan berenang dekat
dengan permukaan air, ikan-ikan yang melompat di permukaan terlihat riak-riak
kecil karena gerombolan ikan berenang dekat permukaan. Buih-buih di permukaan
laut akibat udara-udara yang dikeluarkan ikan, burung-burung yang menukik dan
menyambar-nyambar permukaan laut dan sebagainya. Hal-hal tersebut diatas
biasanya terjadi pada dini hari sebelum matahari keluar atau senja hari setelah
matahari terbenam disaat-saat mana gerombolan ikan-ikan teraktif untuk naik ke
permukaan laut. Tetapi dewasa ini dengan adanya berbagai alat bantu (fish
finder, dll) waktu operasipun tidak lagi terbatas pada dini hari atau senja
hari, siang haripun jika gerombolan ikan diketemukan segera jaring dipasang.
b) Pada operasi malam hari, mengumpulkan / menaikkan
ikan ke permukaan laut dilakukan dengan menggunakan cahaya. Biasanya dengan
fish finder bisa diketahui depth dari gerombolan ikan, juga besar dan
densitasnya. Setelah posisi ini tertentu barulah lampu dinyalakan (ligth
intesity) yang digunakan berbeda-beda tergantung pada besarnya kapal, kapasitas
sumber cahaya. Juga pada sifat phototxisnya ikan yang menjadi tujuan penangkapan.
c) Setelah fishing shoal diketemukan perlu diketahui
pula swimming direction, swimming speed, density ; hal-hal ini perlu
dipertimbangkan lalu diperhitungkan pula arah, kekuatan, kecepatan angin, dan
arus, sesudah hal-hal diatas diperhitungkan barulah jaring dipasang. Penentuan
keputusan ini harus dengan cepat, mengingat bahwa ikan yang menjadi tujuan
terus dalam keadaan bergerak, baik oleh kehendaknya sendiri maupun akibat dari
bunyi-bunyi kapal, jaring yang dijatuhkan dan lain sebagainya. Tidak boleh luput
pula dari perhitungan ialah keadaan dasar perairan, dengan dugaan bahwa
ikan-ikan yang terkepung berusaha melarikan diri mencari tempat aman (pada
umumnya tempat dengan depth yang lebih besar) yang dengan demikian arah
perentangan jaring harus pula menghadang ikan-ikan yang terkepung dalam keadaan
kemungkinan ikan-ikan tersebut melarikan diri ke depth lebih dalam. Dalam waktu
melingkari gerombolan ikan kapal dijalankan cepat dengan tujuan supaya
gerombolan ikan segera terkepung. Setelah selesai mulailah purse seine ditarik
yang dengan demikian bagian bawah jaring akan tertutup. Melingkari gerombolan
ikan dengan jaring adalah dengan tujuan supaya ikan-ikan jangan dapat melarikan
diri dalam arah horisontal. Sedang dengan menarik purse line adalah untuk mencegah
ikan-ikan supaya ikan-ikan jangan dapat melarikan diri ke bawah. Antara dua
tepi jaring sering tidak dapat tertutup rapat, sehingga memungkinkan menjadi
tempat ikan untuk melarikan diri. Untuk mencegah hal ini, dipakailah galah,
memukul-mukul permukaan air dan lain sebagainya. Setelah purse line selesai
ditarik, barulah float line serta tubuh jaring (wing) dan ikan-ikan yang
terkumpul diserok / disedot ke atas kapal.
DAFTAR PUSTAKA
Au. Ayodya. DASEN
FAKULTAS PERIKANAN. Cetakan Pertama. Penerbit :Yayasan Dewi Sri. IPB. Bogor.
Waluyo Subani dan H.R
Barus.1989.ALAT PENANGKAPAN IKAN DAN UDANG LAUT DI INDONESIA. Balai Penelitian
Perikanan Laut. Jakarta.
WWW. MAINE
AQUARIUM.COM
WWW.FISHERIES.COM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar