BUDIDAYA UDANG WINDU
SISTEM SEDERHANA PLUS

Saat ini udang menjadi komoditi ekspor perikanan nomor
satu di Indonesia. Setidaknya ada dua jenis udang yang menjadi andalan, yakni
udang windu dan vaname. Udang Windu (penaeus
monodon) dikenal dengan sebutan black tiger
shrimp merupakan udang laut asli Indonesia yang tumbuh
mencapai 35 cm dan berat sekitar 260 gram. Namun, jika dipelihara di tambak
panjang tubuhnya hanya mencapai 20 cm dan berat sekitar 140 gram.
Udang windu memliki kulit tubuh yang keras, berwarna
hijau kebiruan, dan berloreng-loreng besar. Saat muda udang Windu berada di
perairan dangkal tepi pantai, dan begitu dewasa mencari tempat yang dalam di
tengah laut.
Dilihat dari segi manfaatnya bagi kebutuhan gizi manusia,
udang memiliki kadar protein yang tinggi, vitamin, dan mineral lainnya. Selain
itu udang juga memiliki asam amino yang lengkap, baik essensial ataupun
nonessensial.
Untuk membangkitkan semangat pembudidaya tambak udang windu,
diperlukan pemahaman tentang kriteria yang
mempengaruhi keberhasilan budidaya. Ketersediaan induk kelas wahid,
pengalaman pembudidaya, serta ketersediaan pakan merupakan potensi
yang perlu dioptimalkan. Leaflet
iniakan menjelaskan Standar Operasional Prosedur Budidaya Udang Windu dengan metode sederhana
plus yang sering digunakan petambak tradisional.
A. Persiapan Lahan
1. Keringkan dasar tambak sampai terlihat retak-retak
2. Buanglah lumpur hitam
yang menumpuk di
sudut tambak sampai kelihatan warna dasar tambak
yang kecoklatan
3. Ukur pH
tanah, apabila pH-nyadibawah 6, gunakan kapur 500-1000 kg/ha
tebarkan secara merata keseluruh permukaan tanah tambak
B. Persiapan
Media Air
1. Masukkan
air ke dalam petakan tambak menggun akan saringan/kain kasa/screen
sampai ketinggian air mencapai 80 cm (dalam caren) dan 40-50 cm
(di atas pelataran)
2. Gunakan Saponin
100 kg/ha yang telah direndam sebelumnya selama 24 jam kemudian ditebar merata ke seluruh permukaan
air tambak beserta ampas-ampasnya
3. Stabilkan warna
air tambak (kehijauan/ kecoklatan), apabila warna air
masih terlalu cerah, gunakan pupuk NPK 20-30 kg/ha.
Apabila masih belum terjadi perubahan warna
air, ulangi aplikasi pemupukan dengan dosis yang
sama pada 4 hari kedepan.
4. Seminggu setelah aplikasi saponin,
benur siap ditebar.
C. Seleksi dan Penebaran Benih
1. Benih yang
digunakan adalah tokolan berumur PL 30 yang
sudah teruji bebas virus
(dibuktikan dengan sertifikat uji PCR).
2. Amati
keseragaman dan performa tokolan. Tokolan yang
dipilih adalah yang seragam, berenang lincah melawan arus,
dan anggota tubuh lengkap.
3. Adaptasikan suhu
air dalam kantong packing sebelum dilepaskan kedalam tambak,
dengan menaruh terlebih dahulu kantong benih ke permukaan
air tambak ±15-30 menit.
4. Buka kantong
packing kemudian masukkan air tambak secara perlahan, biarkan 15
menit (air tambak dan air packing telahtercampur) setelah itu baru tuang benih kedalam tambak.
D. Pemberian Pakan
1. Mulailah pemberian pakan sejak awal penebaran.
2. Gunakan pakan
yang mengandung protein 32-35%.
3. Penentuan ukuranpakan disesuaikan dengan bobot/ukuran tubuh udang.
4. Dosis harian pakanuntuk
1 bulan pertama adalah 3% biomass, Bulan ke-2 adalah 2-2,5% biomass,
dan Bulan ke-3 adalah 1,8-2% biomass.
5. Apabila pemeliharaan masih dilanjutkan sampai bulan
ke-4, dosis pakan cukup 1,8% biomass/hari
6. Frekuensi pemberian pakan Bulan pertama adalah
2 kali/hari (Pukul 07.30 dan 17.30), Bulan ke-2 adalah 3 kali/hari (Pukul
07.30, 17.30 dan 23.00), dan bulan ke-3 adalah 4 kali/hari (Pukul
07.30, 11.00, 17.30 dan 23.00).
7. Sebarkan pakan secara merata ke setiap sisi tambak.
8. Sediakan anco untuk memeriksa nafsu makan udang dan untuk mengetahui pakan tersebut habis atau tidak
E. Pengelolaan Air
1. Amati
warna air secara berkala, apabila warna air
sudah mulai pekat (terlalu gelap) lakukan pergantian air
sebanyak 50%
2. Amati
ketinggian air secara berkala,
apabila ketinggian berkurang akibat penguapan, tambahkan
air pada saat bulan purnama (14,15dan 16 umur bulan)
dan saat bulan gelap (29,30 dan 1 umur bulan).
Kedua waktu tersebut adalah waktu pasang tertinggi.
3. Apabila ada tumbuhan
air (klekap) yang mengapung,
segera diangkat supaya tidak terjadi pembusukan yang
akan mengakibatkan kualitas air menurun.
4. Pada saat kondisi hujan deras,
tebarkan kapur sebanyak 50 kg/ha untuk menjaga kestabilan
pH air.
5. Amati
kecerahan air secara berkala, apabila warna air terlalu cerah
(kecerahan 50 cm), tebarkan pupuk NPK 15-20 kg/ha sampai warna air
kembali normal (kecerahan 35-40 cm).
6. Periksaselalu
parameter kualitas air setiap 3 harisekali (Salinitas, Suhu, pH, dankecerahan).
F.
Pengamatan Pertumbuhan
1. Amati
pertumbuhan udang dengan cara melakukan penjalaan,
hitung jumlah udang yang terambil,
kemudian timbang seluruhnya. Hitung rata-rata
bobot tubuh udang/ekor dengan menghitung hasil timbangan berat keseluruhan udang dibagi dengan jumlah udang
yang ditimbang.
2. Lakukan
sampling tersebut seminggu sekali
3. Bobot
rata-rata udang minggu ini dikurangi bobot rata-rata
udang minggu sebelumnya, baru didapatkan hasil rata-rata
pertumbuhan mingguan.
4. Untuk menduga jumlah Biomassa udang,
lakukan sampling, tahapannya adalah sebagai berikut :
a. Lakukan penjalaan
6 kali di 6 titik yang berbeda
b. Asumsi standar bukaan jala adalah
4,5 meter/penjalaan dikalikan 6 titik = 27 meter
c. Hitung jumlah dan timbang bobot seluruh udang
yang tertangkap
d. Hasil jumlah udang
yang tertangkap dibagi seluruh bukaan jala (27 meter)
sehingga diketahui kepadatan udang dalam 1 m²
luas tam bak, dan diketahui pula estimasijumlah udang keseluruhan
di dalam tambak dengan menghitung kepadatan udang/m²
dikali luas tambak.
e. Hasil timbang bobot udang
yang tertangkap dibagi dengan jumlah udang yang
tertangkap, sehingga diketahui bobot rata-rata udang/ekor.
f. Biomassa
= bobot rata-rata udang/ekor dikali estimasi keseluruhan udang
yang ada di tambak di tambak.
G. Manajemen Kesehatan
1. Ambil dan amati secara teratur kondisi udang
yang masuk ke dalam anco. Kondisi udang yang
diamati adalah warna kulit, isi usus,
dan kelengkapan anggota tubuh.
2. Gunakan Vitamin C yang
dicampurkan kedalam pakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh udang.
Dosis vitamin C adalah 3 gram/kg pakan.
3. Amati
secara berkala kebiasaan pergerakan udang di
tambak siang dan malam hari.
4. Apabila kedapatan ada beberapa udang
yang menempel di pinggir tanggul dengan kondisi lemah,
ambil dan buka kulit kepalanya,
amati apakah ada bintik putih atau tidak,
apabila ada maka udang telah terkena penyakit White
Spot dan sebaiknya segera dilakukan pemanenan.
H. Panen dan Pasca Panen
1. Panen udang dengan menggunakan kantong panen melalui pintu
air.
2. Angkat hasil panen dan celupkan sesegera mungkin ke dalam
air es untuk menjaga kesegaran udang hasil panen.
3. Sortir/pisahkan udang menurut ukuran
(size) masing-masing.
4. Packing
udang ke dalam Fiber bersamaan dengan penggunaan es
yang ideal (cukup).
5. Tawarkan ke beberapa Tauke/Pembeli sehingga didapatkan harga
yang pantas
Sumber : BBAP Ujung
Batee
Tidak ada komentar:
Posting Komentar