Selasa, 31 Maret 2020


TEKNIK BUDIDAYA IKAN SEPAT SIAM


                            Umpan Ikan Sepat Siam dan Mutiara - Cara Pancing
          
Biologi Ikian Sepat Siam
       Sepat Rawa Sepat rawa adalah sejenis ikan air tawar. Di Jawa Barat dan seputaran Jakarta ikan ini disebut sepat siam, sedangkan di Jawa Timur ia juga dikenal dengan nama sliper. Dalam bahasa Inggris disebut snake-skin gouramy, merujuk pada pola warna belang-belang di sisi tubuhnya. Nama ilmiahnya adalah Trichogaster trichopterus Pall (Saanin, 1968).

Kingdom : Animalia
Phyllum : Chordata
Classis : Pisces
Familia : Anabantidae
Ordo : Labyrinthici
Genus : Trichogaster
Spesies : Trichogaster trichopterus Pall

         Sepat Rawa (Trichogaster trichopterus Pall) dan Perairan Rawa Sepat rawa adalah ikan yang hidup di air tawar pada suhu 20 – 28o C. Ikan sepat rawa merupakan kelompok ikan yang mempunyai pernafasan tambahan berupa tulang tipis yang berlekuk-lekuk seperti buangan karang yang disebut labirin dengan menggunakan dan mengambil oksigen langsung dari udara. Sebagian dapat membangun karang berbusa yang berguna untuk menyimpan telurnya di dalam mulut. Warna tubuh ikan ini dipengaruhi oleh jenis kelamin reproduksi dan umurnya. Sirip punggung lebih kecil dari pada sirip dubur, mempunyai 6-8 jari-jari keras dan 8-10 jari-jari lunak. Sirip duburnya mempunyai 10-12 jari-jari keras 33-38 jari-jari lunak. Sirip perut memiliki 1 jari-jari keras dan 3-4 jari-jari lunak, satu diantaranya menjadi alat peraba yang panjang seperti ijuk. Sirip dada mempunyai 9-10 jari-jari lunak. Terkadang pada bagian sirip punggung dan sirip ekor yang lunak ada bulatan hitam. Ikan sepat rawa (Trichogaster trichopterus Pall) memiliki ciri-ciri bentuk tubuhnya seperti ikan sepat siam yaitu tubuhnya pipih, kepalanya mirip dengan ikan gurami muda yaitu lancip. Panjang tubuhnya tidak dapat lebih besar dari 15 cm, permulaan sirip punggung terdapat di atas bagian yang lemah dari sirip dubur. Pada tubuhnya ada dua bulatan hitam, satu di tengah-tengah dan satu di pangkal sirip ekor. Sirip ekor terbagi ke dalam dua lekukan yang dangkal, memiliki permulaan sirip punggung atas yang lemah dari sirip duburnya. A. XI – X (XII). 33-38. bagian kepala dibelakang mata dua kali lebih dari permulaan sirip punggung di atas bagian berjari-jari keras dari sirip dubur . Ikan ini memiliki warna yang menarik dengan berbagai variasi, sehingga sering dijadikan ikan hias. Ada 2 jenis yang berwarna menarik, yaitu blue gouramy (warnanya biru) dan gold gouramy (warnanya keemas-an) . Blue gouramy dapat mencapai ukuran 200-350 gram dengan panjang 12,7 cm. Ikan sepat yang jantan tubuhnya lebih pipih, sedangkan yang betina lebih gemuk terutama pada ikan betina yang sedang matang kelamin. Pemijahan blue gouramy umumnya berlangsung pada saat suhu air 26,5 °C (80 °F). Telur yang sudah dibuahi diletakkan di dalam sarang yang mereka buat dari buih.

Kebiasaan Hidup dan Penyebaran 
Sifat makanan ikan sepat adalah omnivora, di perairan umum mereka lebih banyak memakan fitoplankton. Sebagian besar makanan sepat rawa adalah tumbuh-tumbuhan air dan lumut. Namun ikan ini juga memangsa hewan-hewan kecil di air, termasuk ikan-ikan kecil yang dapat termuat di mulutnya. Ikan sepat rawa menyimpan telur-telurnya dalam sebuah sarang busa yang dijagai oleh si jantan. Setelah menetas, anakanak sepat diasuh oleh induk jantan, hingga dapat mencari makanan sendiri. Sedangkan ikan yang dipelihara di dalam akuarium diberi pakan tubifex, kutu air, larva nyamuk, dan pakan kering. Sepat rawa diketahui dapat bernafas langsung dari udara, selain menggunakan insangnya untuk menyerap oksigen dari air. Akan tetapi, tak seperti ikan-ikan yang mempunyai kemampuan serupa (misalnya ikan gabus, betok atau lele), ikan sepat tak mampu bertahan lama di luar air. Ikan ini justru dikenal sebagai ikan yang mudah mati jika ditangkap . Ikan sepat rawa menyukai rawa-rawa, danau, sungai dan parit-parit yang berair tenang; terutama yang banyak ditumbuhi tumbuhan air. Juga kerap terbawa oleh banjir dan masuk ke kolam-kolam serta saluransaluran air hingga ke sawah. Ikan ini sering ditemui di tempat-tempat yang terlindung oleh vegetasi atau sampah-sampah yang menyangkut di tepi air . Penyebaran asli ikan ini adalah dari Asia Tenggara, terutama dari lembah Sungai Mekong di Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam; juga dari lembah Chao Phraya. Di Indonesia ikan ini merupakan hewan introduksi yang telah meliar dan berbiak di alam, termasuk di Jawa .

Cara Budidaya Ikan Sepat Siam  
– Budidaya ikan sepat rawa atau siam adalah salah satu usaha yang menjanjikan bahkan juga menguntungkan, banyak sekali para perikanan membudidayakan ikan sepat ini dengan baik dan benar namun ada juga yang tidak mengetahui sama sekali.
Namun, bagi pemula yang ingin membudidayakan dalam skala besar atau kecil harus memperhatikan panduan beternak atau budidaya ikan ini dengan baik dalam lokasi, pengelolahan kolam, pembesaran, pemeliharaan dan pengendalihan hama dan penyakit. Hal ini merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam budidaya ikan sepat siam atau rawa. Jika anda masih pemula atau senior yang sudah mengetahui cara budidaya dan ingin memaksimalkan hasil budidaya ikan sepatnya perhatikan langkah – langkah berikut cara budidaya ikan sepat dengan mudah dan sederhana.

Pemilihan lokasi
Pemilihan lokasi ini sangat penting dilakukan untuk menentukan hasil yang maksimal, diantara yaitu :
·              Jauh dari pemukiman warna, atau keributan
·              Jauh dari rawan banjir di sekitar area
·              Suhu lingkungan normal
·              Terkena cahaya matahari cukup

Pemilihan Indukan ikan sepat
Pemilihan indukan ikan sepat jantan dan betina ini harus dilakukan dengan cara pengamatan secara detainya yaitu :
·              Berasal dari indukan berkualitas
·              Sudah mampu memproduksi sel telur dan spermatozoa
·              Memiliki gerakan lebih lincah
·              Tidak abnormal ( pada bagian apapun )
·              Pertumbuhan relatif jauh lebih cepat

Pengelolahan media kolam
Pengelolahan media kolam ini sangat banyak sekali di gunakan mulai dari kolam beton, terpal dan media tanah lainnya. Namun, untuk lebih memudahkan peternak sebaiknya menggunakan media terpal yaitu dapat dilakukan dengan cara :
1.        Melakukan pencangkulan media tanah dengan kedalam mencapai 1-2 meter bahkan lebih dengan lebar 3-5 meter dan panjang mencapai  8-10 meter.
2.       Kemudian, siapkan media terpal dengan ukuran yang sesuai untuk lebih mempermudahkan dalam pembudidayakan ikan sepat.
3.       Lalu, sebelum memasukan bibit ikan sepat sebaiknya bersihkan terlebih dahulu terpal dengan menggunakan larutan air garam atau insektisida untuk menghindari ancaman berbagai macam penyakit datang sekitar 2-3 hari.
4.       Setelah itu, masukan media air dengan ketinggian mencapai permukaan sekitar 30-40 cm dan jangan sampai kepenuhan.
5.       Lalu masukan bibit ikan sepat yang sudah disediakan dan sudah dilakukan seleksi sekitar 50 ekor – 100 ekor ikan sepat perkolamnya.

 Pemeliharaan ikan sepat
Pemeliharaan ikan sepat ini dapat dilakukan dengan cara melakukan sanitasi dengan baik, memberikan pakan ikan sepat dengan teratur sekitar 2 kali dalam sehari, mengatikan air dengan baik pada waktu yang berskala sekitar 2-3 minggu, dan melakukan pengendalian hama dan penyakit dengan baik.

Pemanenan ikan sepat
 Pemanenan ikan sepat ini pada umumnya dilakukan sekitar 3-4 bulan tergantung dengan jenis dan varietesnya. Pemanenan ini dapat dilakukan dengan baik pada sore dan pagi hari, yang dilakukan dengan cara menguras air atau menjaring ikan secara bertahap dengan hati – hati tanpa merusak kualitas pada ikan sepat.

Sumber :   
1. http://eprints.unlam.ac.id/
2. http://fredikurniawan.com/


Senin, 30 Maret 2020


MENGENAL LEBIH JAUH DENGAN
KUDA LAUT ( Hippocampus Spp,)

Tahukah Anda Kuda Laut Jantan yang Hamil & Melahirkan? : Okezone ...

Kuda laut dikenal tidak hanya sebagai binatang penghibur di akuarium tetapi juga sebagai "obat kuat", penambah stamina. Bahkan sebuah pabrik jamu di Indonesia dengan jelasnya mencantumkan kuda laut sebagai salah satu bahan penting pada daftar komposisi bahan baku.

Hippocampus berasal dari bahasa Yunani hippos yang berarti kuda dan campus yang berarti monster laut. Dalam mitologi negara tersebut, hippocampus adalah sebuah kendaraan dewa-dewa laut. Kuda laut (Hippocampus spp) juga telah meng­ilhami banyak orang untuk membuat benda seni, tulisan, puisi, logo perusahaan atau maskot organisasi.

Penyebaran kuda laut cukup luas, tetapi karena terkenal kepiawaiannya dalam berkamuflase, kuda laut seringkali tidak terlihat. Kuda laut mampu mengubah corak kulit dan warna menyesuaikan lingkungan serta bergerak lambat sehingga nyaris tidak terdeteksi "lawan".

Beberapa species kuda laut mempunyai bagian tubuh yang transparan sehingga tidak terlihat dalam foto dan perlu pengamatan yang lebih jeli untuk dapat melihatnya.
Kuda Laut termasuk binatang yang populer di Indonesia, apalagi ketika binatang tersebut sempat dijadikan logo PERTAMINA selama puluhan tahun, dan hampir semua pom bensin memasang logo tersebut dalam ukuran besar dengan lampu neon di dalamnya.

Hanya saja bagi yang belum melihat wujudnya seringkali menyangka bahwa kuda laut termasuk binatang yang besar ukurannya, terbawa persepsi kuda
darat dan besarnya logo Pertamina di pom bensin.

Kuda laut termasuk binatang mungil, dengan kisaran ukuran mulai 16 mm — 35 cm.
Organisasi lain yang tertarik menggunakan kuda laut sebagai maskot adalah National Society of Epilepsy di Amerika Serikat.

Terpilih sebagai maskot karena hippocampus juga merupakan nama bagian dari otak yang bentuknya menyerupai kuda laut dan relatif tahan terhadap serangan ayan atau epilepsi. Maskot kuda laut tersebut dinamai Cesar diambil dari nama Kaisar Romawi Julius Caesar yang diduga menderita epilepsi.


Binatang Unik
Dari keluarga besar ikan, bersama dengan pipefish kuda laut termasuk ke dalam sub famili Hippocampinae, famili Syngnathidae, ordo Syngnathiformes, kelas Actinopterygii, filum Chordata.

Hidup di perairan tropis, kuda laut mempunyai puluhan jenis dan species yang berada di Indonesia meliputi antara lain: Hippocampus barbouri, Hippocampus bargibanti, Hippocampus comes, Hippocampus denise, Hippocampus histrix, Hippocampus kelloggi, Hippocampus kuda, Hippocampus semispinosus, Hippocampus spinosissimus, dan Hippocampus trimaculatus.
Dari segi gender, binatang ini dapat membingungkan karena kuda laut dan pipefish termasuk binatang unik dan mungkin hanya satu ­satunya makhluk berkelamin jantan yang dapat bunting. Masa kebun­tingan kuda laut berlangsung antara 2 hingga 3 minggu.
   
Umumnya kuda laut setia dengan pasangannya alias monogami, tetapi terdapat beberapa species diantaranya H. abdominalis, kuda laut berperut gendut yang gemar berpetualang dan berganti ­ganti pasangan alias poligami.

Untuk pasangan monogami, umumnya kuda laut jantan dan betina akan saling menyapa dan bercengkerama di pagi
dan sore hari, dan untuk sisa waktu lainnya mereka hidup terpisah guna mencari makanan masing-masing.

Kuda laut adalah binatang hebat karena begitu lahir langsung dapat berenang dan pada umur sehari sudah dapat langsung makan dengan menu yang sama seperti induknya, tentunya dengan ukuran yang lebih kecil menyesuaikan mulutnya yang imut-­imut.

Kuda laut memakan larva ikan, teri, dan udang kecil atau rebon.
Kuda laut mempunyai saudara jauh yaitu sea dragon yang mempunyai badan relatif besar dan ekor mirip bentuk daun sehingga dapat diguna­kan untuk bersembunyi diantara

rumput laut yang mengambang. Beberapa waktu yang lalu, sea dragon di Jakarta sempat populer ketika taman rekreasi Seaworld Ancol mempromosikan dengan gencar binatang yang diimpor dari Australia tersebut.

Kuda Laut Dalam Perdagangan
Kuda laut ternd diburu sebagai ternak air lucu yang menggemaskan atau sebagai bahan obat. Akibatnya diperkirakan telah terjadi penang­kapan berlebih dan populasi kuda laut di alam diperkirakan telah merosot sehingga mulai tahun 2002 para tokoh lingkungan mengusulkan agar perdagangannya dibatasi. Sejak 15 Mei 2004, ketentuan Appendix II CITES (Convention on International Trade for Endangered Species for Wild Fauna and Flora) terhadap semua species kuda laut efektif mulai berlaku.

Akibatnya untuk kegiatan impor dan ekspor kuda laut tangkap­an dari alam diatur melalui kaidah tersendiri. Hanya sejumlah tertentu yang telah dikuotakan yang dapat diperdagangkan secara international baik dalam keadaan hidup atau mati utuh atau hanya sebagian dari tubuh species tersebut. Ekspor kuda laut dari alam harus dilengkapi dengan Surat Angkut Tumbuhan / Satwa Liar

Dalam Negeri — Luar Negeri (SATS DN dan LN) yang diterbitkan oleh Management Authority dari masing­masing negara, dan untuk Indonesia diterbitkan oleh Departemen Kehutanan. Namun demikian, dalam prakteknya penerapan peraturan tersebut relatif sulit karena hingga 30 kg kuda laut kering masih dapat ditenteng dan tidak dikirim melalui kargo. Atau untuk kasus kuda laut hidup seringkali petugas kepabeanan tidak menyadari bahwa ekspor kuda laut harus dilengkapi dengan doku­men SATS DN dan LN.

sebagai penghuni aquarium, kuda laut diekspor hampir ke seluruh negara — negara pengimpor tradisio­nal ikan hias. Untuk pemeliharaan di dalam aquarium, karena kuda laut termasuk yang lemah lembut dan gemulai serta makannya lambat maka kuda laut sebaiknya dipelihara secara khusus atau tersendiri.

Atau jika akan dicampur dengan ikan hias lain, maka mesti dipilih species yang cukup bersahabat dengan kuda laut seperti beberapa species udang atau species yang mencari pakan di dasar seperti misalnya ikan goby. Yang harus dihindari untuk menjadi teman kuda laut di aquarium adalah: belut, tang, triggerfish, cumi-cumi, gurita dan anemon laut alias clown fish. Bisa-­bisa mereka rebutan pakan dan kuda laut mati merana karena kelaparan, kalah gesit.

Masih tingginya ketergantungan bibit dari alam baik serta tingkat mortalitas yang tinggi setelah ditang­kap menyebabkan harga kuda laut selangit. Para pehobi akuarium menjadikan kuda laut sebagai bina­tang peliharaan.

Kuda laut masih amat tergantung pakan dari alam, belum dapat memakan pakan buatan pabrik seperti pelet misalnya. seringkali jenis pakan yang monoton membuat sistem daya tahan tubuh kuda laut menurun dan mudah terserang penyakit. Namun sejalan dengan perkembangan teknologi, kini


kuda laut telah berhasil dibudidayakan di beberapa negara dan justru hasil budidaya harganya lebih baik daripada tangkapan di alam karena daya tahannya lebih kuat dan tidak mudah terserang penyakit untuk dipelihara di aquarium.
Kuda laut mempunyai berat yang sangat ringan karena "relatif tidak berdaging dan kosong" didalamnya.

Kandungan yang menonjol antara lain kitin, kolagen dan mineral penting lainnya. Tak heran apabila kuda laut kering harganya selangit. Di sebuah toko hasil laut di Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung kuda laut kering ukuran relatif besar dijual dengan harga Rp 30.000/ekor, dan ukuran kecil Rp 20.000/ekor, atau kalau beli 1 ons harganya Rp 600.000,-, artinya 1 kg kering harganya mencapai 6 juta rupiah. sebuah angka yang fantastic.

Untuk kualitas yang lebih baik, harga di toko obat Cina bahkan dapat lebih mahal lagi. Pembelinya umumnya adalah peramu obat tradisional Cina. Banyak sekali ramuan obat Cina yang mengandung kuda laut dan di Jakarta, obat ramuan Sinshe yang mengandung kuda laut harganya juga lebih mahal. Permintaan kuda laut semakin meningkat, apalagi setelah terjadinya tren penggunaan kapsul sebagai pembungkus obat tradisional.

Ingin Menumpuk Pundi-pundi dari Kuda Laut?
Budidaya kuda laut sudah dapat dilaksanakan di Indonesia. Sejak sepuluh tahun silam, Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBL) yang berada di Teluk Lampung telah mampu memproduksi benih kuda laut species Hippocampus kuda.
Ukuran yang dijual adalah M: 7-9 cm, umur 4-5 bulan dan ukuran L minimal 10 cm, umur 6-7 bulan. Benih kuda laut pada umur tersebut telah mempunyai daya tahan yang cukup sehingga harapan hidup di aquarium lebih besar. Benih yang dijual adalah merupakan keturunan kedua dan dapat diambil di lokasi.

Selain BBL di Lampung, sebuah panti benih kudalaut juga telah berhasil mengembang­biakkan. Masih belum percaya diri untuk perawatan kuda laut, BBL maupun panti benih di Kalianda sanggup memberikan pelatihan perawatan dengan cara magang di balai atau panti yang bersangkutan.

Guna mengantisipasi pengawasan perdagangannya, kuda laut hasil budidaya sebaiknya disertai dengan Surat keterangan asal dari institusi tempat kuda laut dilahirkan sebagai dokumen yang mengikuti perjalanan produk.


Sumber : 
    http://informasi--budidaya.blogspot.co.id/2008/09/kuda-laut-hippocampus-spp.html
    Warta Pasar Ikan,
    Direktorat Pemasaran Dalam Negeri,
    Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Departemen  
    Kelautan     dan Perikanan Indonesia, 2007



SILASE DAN CARA PEMBUATANNYA
                                            
PENINGKATAN KUALITAS SILASE LIMBAH IKAN SECARA BIOLOGIS DENGAN ...
1.    Gambaran Umum
Dari sebagian ikan yang telah dimanfaatkan diperoleh limbah perikanan yang berasal dari ikan hasil tangkapan trawl, sisa-sisa pengolahan dan ikan yang tidak dimanfaatkan pada puncak musim ikan atau ikan busuk dapat dimanfaatkan dalam bentuk silase.
Sejak dahulu, banyak metode telah dilakukan manusia untuk mengolah berbagai bahan-bahan hasil perikanan menjadi produk yang berguna, termasuk produk yang berasal dari limbah. Berdasarkan data statistik, jumlah ikan yang tidak dapat dikonsumsi lagi oleh manusia (karena merupakan ikan rucah, sisa olahan pabrik, kesalahan dalam penanganan, atau karena produksi berlebihan) dapat mencapai lebih dari 500.000 ton setiap tahun. Meskipun daging ikan tersebut sudah tidak memenuhi syarat untuk dikonsumsi oleh manusia, membuangnya begitu saja merupakan pemborosan, karena ikan tersebut masih dapat diolah dengan proses fermentasi menjadi berbagai produk yang berguna . Dalam kegiatan industri pengalengan ikan, selalu menghasilkan limbah ikan yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan. Untuk ikan sisa, baik yang tidak terolah dan sisa-sisa pembuatan olahan ikan lainnya, dapat dijadikan pakan ternak berbentuk cairan/likuid ataupun padatan, tergantung kepada pengolahan lanjutannya. Sementara untuk ikan buangan, mungkin yang sudah membusuk, dapat dilanjutkan menjadi bahan untuk pupuk organik, walaupun bau ikannya akan tetap ada untuk beberapa saat .
Telah dan sedang dikembangkan perhatian dalam proses produksi protein cair untuk makanan hewan dari ikan yang disilasekan. Diantara metode-metode pensilasean yang digunakan adalah perlakuan dengan asam mineral atau organik (sulfuric atauformiat) dan fermentasi. Produk silase umunya berwarna coklat gelap semi pasta, tidak seperti konsentrat "stickwater" dalam penampilannya. Proses pengawetan ikan secara biologis/mikrobiologis disebut sistem ensiling, dengan hasil disebut silase (silage), serta sebagai jasad yang berperan adalah bakterilaktat. Silase ikan juga merupakan produk cair yang dibuat dari ikan yang dicairkan oleh enzim-enzim yang tedapat pada ikan itu sendiri dengan menambah asam organik. Silase adalah produk yang berupa cairan kental hasil pemecahan senyawa komplek menjadi senyawa sederhana yang dilakukan oleh enzim pada lingkungan yang terkontrol, berdasarkan proses pengontrolan tersebut, maka pembuatan silase ikan dapat dilakukan secara kimia dan biologis . Pengawetan ikan dengan proses silase biologis merupakan perkembangan lebih lanjut dari proses pengawetan menggunakan proses AVI dan merupakan pengolahan ikan dengan proses biokimia secara aktif yang dilakukan oleh kelompok bakteri asan laktat. Proses tersebut selain membutuhkan karbohidrat yang baik dan menguntungkan, juga faktor-faktor lingkungan harus diperhatikan. Karbihidrat sebagai sumber energi antara lain tepung serealia dan gula. Penambahan tepung terhadap terhadap gula (5:1) serta campuran tersebut terhadap ikan (1:2 atau1:3). Dalam kasus daging dan ikan yang merupakan perishable food. Fermentasi asam telah digunakan sejak zaman purbakal untuk mengawetkan daging dan unuk silase dari limbah ikan, unggas dan hewan-hewan. pH yang lebih rendah dihasilkan karena asam laktat menghambat kerusakan dan mikroorganisme patogen. Secara fisik, terjadi perubahan mikrobiologi dan biokimia selama fermentasi, dengan produksi asam laktat menghasilkan pH yang rendah, penurunan aw, penghambatan kerusakan dan mikroba patogen, enzim proteolitik memecah miofibril dan sarkoplasma protein. Protein miofibril larutan garam menggumpal dan memberikan konsistensi yang kuat dan tekstur pada produk, dan peningkatan komponen aroma karena aktivitas lipolitik dari bakteri asam laktat. Organisme yang bertanggung jawab adalah Pediococcus acidilacticiPediococcus pentosaceus dan Lactobacillus plantarum sebagaimana bergabung dua atau tiga diantaranya.
Silase yang dihasilkan dapat dipakai sebagai makanan binatang atau dikeringkan dan disimpan hingga digunakan.
Karakteristik silase adalah:
·       pH dari ikan cepat turun dari pH 6,0 atau 6,5 menjadi dibawah pH 5,0 proses fermentasi dikatakan berhasil jika lebih cepat turunnya pH dan selama silase fermentasi tetap rendah
·       kadar asam laktat tinggi, meningkat tajam selama beberapa hari pertama dan senantiasa agak konstan selama fermentasi
·       kadar amoniak nitrogennya rendah
·       spora bakteri anaerobic dan coliform rendah
·       tidak terdapat bakteri patogen seperti Salmonella spp dan Staphylococcus spp
·       mempunyai bau khas ikan
·       volume gas selama fermentasi relatif kecil selalu stabil untuk waktu lebih dari 6 bulan dalam
      bentuk basah dan lebih 1 tahun dalam bentuk kering.

Slase yang baik akan berubah bentuk menjadi cairan setelah dibiarkan 5-8 hari. Prosees pencairan daging ikan ini disebabkan oleh adanya aktivitas enzim poroteolitik, misalnya catepsin yang terdapat didalam tubuh ikan. Dengan penambahan asam, enzim ini akan segera memecah protein menjadi gugus peptida yang berantai pendek atau asam amino yang mudah larut dalam air. Bila silase mengandung sejumlah bakteri pembusuk, adanya aktivitas dari bakteri pembusuk ini selama masa penyimpanan dapat diketahuiberdasarkan terbentuknya senyawa ammonia. Pada silase yang bermutu baik, selama penyimpanan 21 hari, persentase senyawa ammonia yang terbentuk sangat rendah, yaitu hanya sekitar 2% dari jumlah total protein yang dikandungnya. Rendahnya presentase ammonia yang terbentuk dapat memberikan petunjuk bahwa tidak ada atau hanya sedikit sekali bakterii pembusuk yang dapat bertahan hidup dalam produk silase berkualitas baik. Berdasarkan hasil pemeriksaan secara mikrobiologis, ternyata silase yang dibuat dengan penambahan campuran asam formiat dan propionat tidak menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri pembusuk atau adapatdianggap steril
Kelebihan dari produk silase adalah : teknik pengerjaan mudah dan murah, tidak tergantung pada kuantitas atau kualits bahan baku yang digunakan, dapat dilakukan untuk memanfaatkan ikan-ikan yang tidak digunakan, dan pengolahan ikan menjadi silase tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Sedangkan kelemahan produk silase adalah masalah penyimpanan. Silase berbeentuk cairan membutuhkan ruang penyoimpaan yang besar.
Silase ikan dapat dimanfaatkan sebagai salh satu unsur yang dicampurkan kedalam makanan ikan atau makanan ternak lainnya. Penggunaan silase ikan dalam makanan umumnya dimasudkan untuk menggantikan seluruh atau sebagian tepung ikan didalamnya. Dalam suatau penelitian yang dilakukan, dihasilkan kesimpulan bahwa penggunaan starter bakteri pada teknologi silase limbah pengolahan ikan dapat menunjang budidaya ikan nila dan lele secara bikultur. Metode fermentasi telah mampu diberikan kepada jeroan/isi perut ikan, limbah hasil sembelihan rumah tangga dan limbah unggas, sebagai sumber protein tinggi bagi pakan ternak dan telah ditemukan bahwa manfaatnya tidak hanya untuk pengawetan, tetapi juga sebagai kontrol pencewmaran lingkungan dan bahaya atau resiko kesehatan,

2.      Tujuan Pengolahan
a.    Memanfaatkan limbah-limbah perikanan yang berasal dari kegiatan penangkapan, pengolahan dari pabrik, kesalahan penanganan, dan produksi berlebihan.
b.    Menambah nilai ekonomi limbah-limbah perikanan yang dihasilkan
c.    Mengurangi ketergantungan tepung ikan sebagai bahan baku pembuatan pakan buatan
d.   Melakukan pengawetan terhadap limbah-limbah perikanan
e.    Memenuhi kebutuhan pakan ternak yang berprotein tinggi
f.     Mengurangi tingkat pencemaran lingkungan akibat limbah perikanan
g.    Meningkatkan kreativitas dan pendapatan masyarakat

3.  Alat dan Bahan yang Digunakan
1)   Alat
·      Pisau
·      Alat penggiling daging
·      Baskom
·      Sendok (pengaduk)
2)   Bahan
·      Ikan rucah
·      Garam
·      Limbah pengolahan
·      Asam formiat 3%
·      Asam propionat 1%

4.    Cara Pembuatan
Proses pembuatan silase dapat dilakukan dengan cara kimia dan biologis. Secara kimia dapat digunakan asam organic dan asam anorganik. Secara biologis dilakukan dengan menambahkan sumber bakteri asam laktat dan karbohidrat sebagai substrat dan kemudian difermentasi dalam keadaan anaerob. Pada dasarnya prinsip pembuatan silase ikan adalah menurunkan pH ikan agar pertumbuhan maupun perkembangan bakteri pembusuk terhenti. Dengan terhentinya aktivitas bakteri, aktivitas enzim baik yang berasal dari tubuh ikan itu sendiri maupun dari asam yang sengaja ditambahkan meningkat. Dengan penambahan garam dan larutan asam , pertumbuhan bakteri pembusuk terhambat, sehingga memberikan kesempatan kepada jamur atau ragi untuk tumbuyh dengan pesat. Penambahan larutan asam menciptakan kondisi lingkungan yang asam dan sangat dibutuhkan dalam proses fermentasi. Tahapan proses yang umum dilakukan dalam proses pembuatan silase yaitu: menyiapkan starter/inokulum bakteri laktat, terbuat dari rajangan kubis (kol). Untuk membuat starter/inokulum ambillah sebuah kubis. Rajang hingga menjadi bagian yang kecil, masukkan kedalam tempat tertutp missal kantung plastik. Beri air secukupnya dengan perbandingan 1:1 (jumlah air sama dengan volume kubis). Kemudian tambahkan 2,33% garam dapur (penambahan garam dapur ini karena akan menghambat pertumbuhan bakteri belerang yang sudah ada pada kubis). Tutp rapat dan simpan selama 5-6 hari, maka proses pembentukan asam laktat yang akan terjadi. Hal ini dapat diketahui jika nilai pHnya diukur dengann kertas lakmus menunjukkan angka kurang dari 4. Setelah tercium bau asam (umumnya antara 4-5 hari) campurkan rajangan kubis tersebut kedalam ikan atau ikan membusuk. Lalu simpan pada tempat tertutup selama 4-6 hari.

Ada beberapa metode pembuatan silase dari bahan limbah pangan sebagai berikut:
·    Metode Asam (Ikan berlemak rendah).
Ikan atau sisa olahan dicincang dan digiling halus ditambahkan campuran asam formiat dengan asam propionat(1:1)/100 kg ikan, diaduk 3-4 kali/ hari selama 4 hari pertama agar homogen. Biasanya hari ke 5 ikan sudah mencair atau menjadi silase. Simpan silase dalam wadah tertutup, setelah dikeringkam agar menjadi tepung
·    Metode Asam (Ikan berlemak tinggi).
Ikan atau sisa olahan dicincang halusditambahkan 3 liter campuran asam formiat dengan asam propionat (1:1)/100 kg ikan, biarkan ikan terendam selama 24 jam, kemudin dipres hingga terpisah lemaknya. Ampas hasil perasan digiling dan dikeringkan
·    Metode Biologis.
Ikan atau sisa olahan dicincang dan digiling halus ditambahkan kanji (tapioca) sebanyak 20 % berat ikan dan tuangkan air panas dengan perbandingan (1:4) dan dalam keadaan dingin dicampur dengan 12,5% larutan s8umber bakteri asam laktat (asinan kubis). Campuran tersebut dimasukkan wadah tertutup (anaerobic) selama 1 minggu

Sumber :
 http://aditamabahari.blogspot.co.id
 www.scribd.com/doc/52396785 
www, duniaprikanan.blogspot.com/Silase-Ikan