Jumat, 29 Mei 2020


Budidaya Ikan dan Sayuran Dengan

Sistem Akuaponik 

                                    Pahami Tenik Bercocok Tanam Sistem Aquaponik Sederhana | Bibit Online

Akuaponik adalah system budidaya ikan (akuakultur )dan tanaman (hidroponik) bersama dalam sebuah  ekosistem yang resirkulasi/saling menguntungkan yang menggunakan bakteri alami untuk mengubah kotoran & sisa pakan ikan menjadi nutrisi tanaman. Dengan kata lain akuaponik adalah system dimana tanaman dan ikan bertumbuh bersama.
Dengan  menggabungkan kedua sistem tersebut, terjadi daur ulang sehingga limbah dari  sistem akuakultur merupakan input sistem hidroponik.  Dengan menggabungkan akuakultur menjadi akuaponik, limbah yang dibuang ke alam menjadi sangat minimal.Sehingga boleh dikatakan sistem akuaponik adalah sistem yang ramah lingkungan.
Mengapa harus akuaponik ?
Pada sistem aquaponik, nutrisi hidroponik yang harganya cukup mahal sudah tergantikan dengan kotoran ikan sebagai nutrisi bagi tanaman.
Perawatan akuaponik sangat mudah
Akuaponik lebih produktif, dapat menghasilkan sayuran dan ikan
Akuaponik adalah organic. Dalam akuaponik adalah ekosistem alami dimana kita tergantung bakteri dan cacing untuk mengubah ammonia dan sisa pakan ikan menjadi nutrisi sayuran. Ini adalah proses organic. Tidak mempergunakan pestisida, karena ikan akan terpengaruh bahkan mati jika kena pestisida.
Meningkatnya permintaan/Jumlah penduduk yang bertambah dan lahan pertanian yang berkurang
Pemakaian air yang banyak dalam pertanian, sehingga perlu mencari cara budidaya yang lebih efisien
Perubahan cuaca.
Overfishing

                                     Kiat Sukses Akuaponik di Pekarangan Rumah

Hidroponik dan akuaponik merupakan suatu sistem yang banyak digunakan masyarakat terutama di perkotaan untuk bercocok tanam. Hal tersebut terjadi karena kedua sistem ini tidak membutuhkan lahan yang luas untuk memulainya.
Namun begitu tentunya ada perbedaan antara hidroponik dan akuaponik, terutama dalam segi hasil. Bila pada hidroponik yang bisa dipanen hanya sayuran, sementara untuk akuaponik bisa didapat hasil pertanian berupa sayur dan hasil perikanan.
Hal tersebut terjadi karena akuaponik merupakan sistem pertanian berkelanjutan yang mengombinasikan akuakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik (saling menguntungkan). Dalam akuakultur yang normal, ekskresi dari hewan yang dipelihara akan terakumulasi di air dan meningkatkan toksisitas air jika tidak dibuang. Dalam akuaponik, ekskresi hewan diberikan kepada tanaman agar dipecah menjadi nitrat dan nitrit melalui proses alami, dan dimanfaatkan oleh tanaman sebagai nutrisi. Air kemudian bersirkulasi kembali ke sistem akuakultur.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan sistem akuaponik ada beberapa keuntungan yang dapat diambil seperti mendapatkan dua komoditas usaha tani yaitu sayuran dan ikan dalam satu areal wilayah. Sayuran yang dihasilkan lebih sehat karena nutrisi tanaman didapat dari bahan organik sisa pakan dan feses ikan dan ikan bisa dibudidayakan dengan sistem padat tebar jika diterapkan sistem resirkulasi pada air. Lahan untuk sistem akuaponik, petani tidak membutuhkan biaya perawatan yang besar seperti biaya pakan dan lain sebagainya.
Sistem Akuaponik Hasilkan Sayur dan Ikan Kualitas Bagus
Berbagai jenis sayuran bisa diaplikasikan pada akuaponik di antaranya kangkung, selada , sawi, caisim, bayam, seledri, cabai, tomat, timun sedangkan untuk jenis ikan yang bisa diaplikasikan pada sistem ini juga beragam mulai dari ikan mas, mujair, lele, patin hingga ikan gurame.
Karena merupakan hasil kombinasi antara akuakultur dan hidroponik maka untuk lama pemanenan dan hasil yang didapat tidak jauh berbeda. Untuk kualitas sayuran yang dibudidayakan dengan sistem akuaponik menghasilkan sayuran yang lebih tahan lama jika sudah dipanen, rasa sayuran lebih segar, dan tidak keras saat dimasak. Hal ini didukung karena sayuran mendapatkan nutrisi dari bahan organik fesek ikan.
Sedangkan untuk kualitas ikan secara umum sama dengan konvensional namun untuk teknik budidaya bisa diterapkan sistem padat tebar sehingga akan menghasilkan ikan yang lebih banyak dibandingkan model konvensional. Ikan mas yang dipelihara sekitar 10-50 g per ekor dengan padat tebar yang digunakan berkisar 20 ekor per m2. Ikan nila yang dipelihara sekitar 10 g per ekor, padat tebar yang digunakan berkisar 100-150 ekor per m2. Ikan gurame dengan berat 200-250 g per ekor, padat tebar 10 ekor/m2. Ikan lele dengan ukuran awal yang dipelihara 100-125 g per ekor dengan padat tebar untuk pemeliharaan ikan lele 100-150 ekor/m2. Dan ikan patin dengan ukuran yang dipelihara 10-15 g per ekor kepadatan tebar 15 ekor/m2. Untuk waktu pemanenan, tidak jauh berbeda pada pertanian konvensional yaitu berkisar 1 bulan untuk sayuran dan sekitar 4-5 bulan untuk ikan.
Persiapan
Dalam mengaplikasikan sistem akuaponik dalam skala kecil ukuran panjang 1.2 meter x lebar 1.2 meter x tinggi 2 meter dengan modal minimal yang dibutuhkan sekitar Rp 2 juta. Dari modal tersebut sudah mendapatkan berbagai peralatan dari pipa hingga pompa air.
Setelah peralatan disiapkan langkah berikutnya ialah membuat kolam atau bak pemeliharaan. Agar lebih hemat biaya bisa menggunakan terpal sebagai tempat budidaya pemeliharaan kolam. Karena terpal lebih tahan lama, mudah dibuat dan murah, dalam membuat kolam ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti sumber air yang bersih, bebas racun dan sumber penyakit, kualitas dan kuantitas air, serta keamanan tempat.
Sedangkan untuk media tanam dan bibit ada beberapa media yang bisa digunakan seperti pasir kasar, ijuk, arang kayu, arang sekam, ijuk, pecahan batu bata, kerikil, batu apung, dan batu zeolit.
Tanaman harus disemai dan dipelihara terlebih dalam media berupa tray persemaian atau polybag hingga mencapai ukuran yang ideal untuk dipindahkan di media filter. Untuk melakukan persemaian yang bisa dilakukan adalah persemaian yaitu campuran pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. Buat lubang tanam sedalam 1 cm dengan masing-masing lubang diisi 3-5 biji tergantung jenis biji yang ditanam. Setelah biji ditanam ditutup pasir tipis di atasnya. Persemaian tanaman membutuhkan waktu sekitar 1-2 minggu tergantung jenis tanaman.
Benih yang siap ditanam yaitu mencapai ketinggian 10 cm. benih tanaman beserta akarnya sebaiknya dipindahkan pada sore hari karena pada waktu tersebut kondisi tanaman sedang dalam kondisi baik. Jarak tanam tergantung dari jenis tanamannya, untuk tanaman kangkung, pakchoi dan selada jarak tanam yang dianjurkan 10 cm sedangkan untuk tanaman tomat, cabai dan terung sayur hendaknya jarak tanamannya berkisar 40 cm.
Pemeliharaan
Beberapa hal penting yang mempengaruhi keberhasilan pemeliharaan ikan pada sistem akuaponik adalah pemberian pakan, pengontrolan kualitas air serta monitoring hama dan penyakit ikan. Pemberian pakan hendaklah disesuaikan dengan manajemen pemberian pakan yang benar, seperti misalnya ikan lele, pemberian pakan dengan acuan 5-10% berat biomassa per hari dengan frekuensi pemberian sebanyak 4-5 kali sehari.
Selain pemberian pakan, dalam sistem akuaponik ini harus dilakukan kontrol kualitas dan kuantitas air. Hendaknya air perlu dibersihkan secara berkala setiap 2 minggu sekali. Sedangkan untuk pemeliharaan tanaman, yang dilakukan hanya pengontrolan hama dan penyakit dengan menggunakan perlakukan EM-4 tambak yang bisa didapat di toko pertanian untuk menjaga kestabilan air. Lakukan berbagai pemeliharaan tersebut, hingga sayur dan ikan siap panen.
Sumber : 



MENGENAL ALAT TANGKAP CANTRANG

                                       Cantrang Dilarang, Nelayan Senang | Dinas Kelautan dan Perikanan ...

Sejarah Alat tangkap Cantrang
Danish seine merupakan salah satu jenis alat tangkap dengan metode penangkapannya tanpa menggunakan otterboards, jaring dapat ditarik menyusuri dasar laut dengan menggunakan satu kapal. Pada saat penarikan kapal dapat ditambat (Anchor Seining) atau tanpa ditambat (Fly Dragging). Pada anchor seining, para awak kapal akan merasa lebih nyaman pada waktu bekerja di dek dibandingkan Fly dragging. Kelebihan fly dragging adalah alat ini akan memerlukan sedikit waktu untuk pindah ke fishing ground lain dibandingkan Anchor seining .
Setelah perang dunia pertama, anchor seining dipakai nelayan Inggris yang sebelumnya menggunakan alat tangkap Trawl. Dari tahun 1930 para nelayan Skotlandia dengan kapal yang berkekuatan lebih besar dan lebih berpengalaman menyingkat waktu dan masalah pada anchor seining pada setiap penarikan alat dengan mengembangkan modifikasi operasi dengan istilah Fly Dragging atau Scotish Seining. Pada Fly Dragging kapal tetap berjalan selagi penarikan jaring dilakukan.
Dilihat dari bentuknya alat tangkap cantrang menterupai payang tetapi ukurannya lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya cantrang menyerupai trawl, yaitu untuk menangkap sumberdaya perikanan demersal terutama ikan dan udang.
Dibanding trawl, cantrang mempunyai bentuk yang lebih sederhana dan pada waktu penankapannya hanya menggunakan perahu motor ukuran kecil. Ditinjau dari keaktifan alat yang hampir sama dengan trawl maka cantrang adalah alat tangkap yang lebih memungkinkan untuk menggantikan trawl sebagai sarana untuk memanfaatkan sumberdaya perikanan demersal. Di Indonesia cantrang banyak digunakan oleh nelayan pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah terutama bagian utara .

Prospektif Alat Tangkap Cantrang
Setelah dikeluarkannya KEPRES tentang pelarangan penggunaan alat tangkap Trawl di Indonesia tahun 1980, maka cantrang banyak dipilih nelayan untuk menangkap ikan demersal, karena dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya cantrang ini hampir memiliki kesamaan dengan jaring trawl.

KONSTRUKSI ALAT TANGKAP CANTRANG
Konstruksi Umum
Dari segi bentuk (konstruksi) cantrang ini terdiri dari bagian-bagian :
Kantong (Cod End)
Kantong merupakan bagaian dari jarring yang merupakan tempat terkumpulnya hasil tangkapan. Pada ujung kantong diikat dengan tali untuk menjaga agar hasil tangkapan tidak mudah lolos (terlepas).
Badan (Body)
Merupakan bagian terbesar dari jaring, terletak antara sayap dan kantong. Bagian ini berfungsi untuk menghubungkan bagian sayap dan kantong untuk menampung jenis ikan-ikan dasar dan udang sebelum masuk ke dalam kantong. Badan tediri atas bagian-bagian kecil yang ukuran mata jaringnya berbeda-beda.
Sayap (Wing).
Sayap atau kaki adalah bagian jaring yang merupakan sambungan atau perpanjangan badan sampai tali salambar. Fungsi sayap adalah untuk menghadang dan mengarahkan ikan supaya masuk ke dalam kantong.
Mulut (Mouth)
Alat cantrang memiliki bibir atas dan bibir bawah yang berkedudukan sama. Pada mulut jaring terdapat:
Pelampung (float): tujuan umum penggunan pelampung adalah untuk memberikan daya apung pada alat tangkap cantrang yang dipasang pada bagian tali ris atas (bibir atas jaring) sehingga mulut jaring dapat terbuka.
Pemberat (Sinker): dipasang pada tali ris bagian bawah dengan tujuan agar bagian-bagian yang dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap berada pada posisinya (dasar perairan) walaupun mendapat pengaruh dari arus.
Tali Ris Atas (Head Rope) : berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, badan jaring (bagian bibir atas) dan pelampung.
Tali Ris Bawah (Ground Rope) : berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, bagian badan jaring (bagian bibir bawah) jaring dan pemberat.
Tali Penarik (Warp) :Berfungsi untuk menarik jarring selama di operasikan.

Karakteristik 
Menurut George et al, (1953) dalam Subani dan Barus (1989). Dilihat dari bentuknya alat tangkap cantrang menyerupai payang tetapi ukurannya lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapan cantrang menyerupai trawl yaitu untuk menangkap sumberdaya perikanan demersal terutama ikan dan udang, tetapi bentuknya lebih sederhana dan pada waktu penangkapannya hanya menggunakan perahu layar atau kapal motor kecil sampai sedang. Kemudian bagian bibir atas dan bibir bawah pada Cantrang berukuran sama panjang atau kurang lebih demikian. Panjang jarring mulai dari ujung belakang kantong sampai pada ujung kaki sekitar 8-12 m.
Bahan Dan Spesifikasinya
a.    Kantong : Bahan terbuat dari polyethylene. Ukuran mata jaring pada bagian kantong 1 inchi.
b.    badan : Terbuat dari polyethylene dan ukuran mata jaring minimum 1,5 inchi.
c.    Sayap : Sayap terbuat dari polyethylene dengan ukuran mata jaring sebesar 5 inchi.
d.    Pemberat : Bahan pemberat terbuat dari timah atau bahan lain.
e.    Tali ris atas : Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene.
f.    Tali ris bawah : Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene.
g.    Tali penarik : Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene dengan diameter 1 inchi.

HASIL TANGKAPAN
Hasil tangkapan dengan jaring Cantrang pada dasarnya yang tertangkap adalah jenis ikan dasar (demersal) dan udand seperti ikan petek, biji nangka, gulamah, kerapu, sebelah, pari, cucut, gurita, bloso dan macam-macam udang .

DAERAH PENANGKAPAN
langkah awal dalam pengperasian alat tangkap ini adalah mencari daerah penangkapan (Fishing Ground).
 Suatu perairan dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan yang baik apabila memenuhi persyaratan dibawah ini:
Di daerah tersebut terdapat ikan yang melimpah sepanjang tahun.
Alat tangkap dapat dioperasikan denagn mudah dan sempurna.
Lokasi tidak jauh dari pelabuhan sehingga mudah dijangkau oleh perahu.
Keadaan daerahnya aman, tidak biasa dilalui angin kencang dan bukan daerah badai yang membahayakan.

Penentuan daerah penangkapan dengan alat tangkap Cantrang hampir sama dengan Bottom Trawl.
ALAT BANTU PENANGKAPAN
Alat bantu penangkapan cantrang adalah GARDEN, alat bantu garden untuk menarik warp memungkinkan penarikan jaring lebih cepat. Penggunaan garden tersebut dimaksudkan agar pekerjaan anak buah kapal (ABK) lebih ringan, disamping lebih banyak ikan yang terjaring sebagai hasil tangkapan dapat lebih ditingkatkan.
Gardanisasi alat tangkap cantrang telah membuka peluang baru bagi perkembangan penangkapan ikan, yaitu dengan pemakaian mesin kapal dan ukuran jaring yang lebih besar untuk di operasikan di perairan yang lebih luas dan lebih dalam.
TEKNIK OPERASI (SETTING dan HOULING)
Persiapan
Operasi penangkapan dilakukan pagi hari setelah keadaan terang. Setelah ditentukan fishing ground nelayan mulai mempersiapkan operasi penangkapan dengan meneliti bagian-bagian alat tangkap, mengikat tali selambar dengan sayap jaring.
Setting
Sebelum dilakukan penebaran jaring terlebih dahulu diperhatikan terlebih dahulu arah mata angin dan arus. Kedua faktor ini perlu diperhatikan karena arah angin akan mempengaruhi pergerakan kapal, sedang arus akan mempengaruhi pergerakan ikan dan alat tangkap. Ikan biasanya akan bergerak melawan arah arus sehingga mulut jaring harus menentang pergerakan dari ikan.
Untuk mendapatkan luas area sebesar mungkin maka dalam melakukan penebaran jaring dengan membentuk lingkaran dan jaring ditebar dari lambung kapal, dimulai dengan penurunan pelampung tanda yang berfungsi untuk memudahkan pengambilan tali selambar pada saat akan dilakukan hauling. Setelah pelampung tanda diturunkan kemudian tali salambar kanan diturunkan → sayap sebelah kanan → badan sebelah kanan → kantong →badan sebelah kiri → sayap sebelah kiri → salah satu ujung tali salambar kiri yang tidak terikat dengan sayap dililitkan pada gardan sebelah kiri. Pada saat melakukan setting kapal bergerak melingkar menuju pelampung tanda.
Hauling 
Setelah proses setting selesai, terlebih dahulu jarring dibiarkan selam ± 10 menit untuk memberi kesempatan tali salambar mencapai dasar perairan. Kapal pada saat hauling tetap berjalan dengan kecepatan lambat. Hal ini dilakukan agar pada saat penarikan jaring, kapal tidak bergerak mundur karena berat jaring. Penarikan alat tangkap dibantu dengan alat gardan sehingga akan lebih menghemat tenaga, selain itu keseimbangan antara badan kapal sebelah kanan dan kiri kapal lebih terjamin karena kecepatan penarikan tali salambar sama dan pada waktu yang bersamaan. Dengan adanya penarikan ini maka kedua tali penarik dan sayap akan bergerak saling mendekat dan mengejutkan ikan serta menggiringnya masuk kedalam kantong jaring.
Setelah diperkirakan tali salambar telah mencapai dasar perairan maka secepat mungkin dilakukan hauling. Pertama-tama pelampung tanda dinaikkan ke atas kapal → tali salambar sebelah kanan yang telah ditarik ujungnya dililitkan pada gardan sebelah kanan → mesin gardan mulai dinyalakan bersamaan dengan mesin pendorong utama hingga kapal bergerak berlahan-lahan → jaring mulai ditarik → tali salambar digulung dengan baik saat setelah naik keatas kapal → sayap jaring naik keatas kapal → mesin gardan dimatikan → bagian jaring sebelah kiri dipindahkan kesebelah kanan kapal → jaring ditarik keatas kapal →badan jaring → kantong yang berisi hasil tangkapan dinaikkan keatas kapal. Dengan dinaikkannya hasil tangkapan maka proses hauling selesai dilakukan dan jaring kembali ditata seperti keadaan semula, sehingga pada saat melakukan setting selanjutnya tidak mengalami kesulitan.

HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PENANGKAPAN
Kecepatan dalam menarik jaring pada waktu operasi penangkapan.
Arus : Arus akan mempengaruhi pergerakan ikan dan alat tangkap. Ikan biasanya akan bergerak melawan arah arus sehingga mulut jaring harus menentang pergerakan dari ikan.
Arah angin
Arah angin akan mempengaruhi pergerakan kapal pada saat operasi penangkapan dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
~        Ayodyoa, 1972. Kapal Perikanan. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ayodyoa, 1975. Fishing Methods. Proyek Peningkatan / Pengembangan Perguruan Tinggi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
~        Damanhuri, 1980. Diktat Fishing Ground Bagian Tehnik Penagkapan Ikan. Fakultas Periakanan. Universitas Brawijaya. Malang. 56, 57 hal.
~        Dickson, 1959. The Use Of Danish Seine, Modern Fishing Gear Of The World. Japan International Cooperation Agency. Tokyo
~        Martosubroto, 1987. Penyebaran Beberapa Sumber Perikanan Di Indonesia. Direktorat Bina Sumberdaya Hayati. Direktorat Jendral Perikanan. Departemen Pertanian. Jakarta.
~        Muhammad, S, Sumartoyo, M. Mahmudi, Sukandar dan agus Cahyono, 1997. Studi Pengembangan Paket Teknologi Alat Tangkap Jaring Dogol (Danish Seine) Dalam Rangka Pemanfaatan Sumberdaya Ikan-Ikan Demersal Di Perairan Lepas Pantai Utara Jawa Timur. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang.
~        Subani, W dan H.R. Barus, 1989. Alat Penangkapan Ikan Dan Udang Laut Di Indonesia. Balai Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.
~        Laut biru

http://taninelayanku.blogspot.co.id/2013/11/alat-tangkap-cantrang.html

Rabu, 27 Mei 2020


MENGENAL JELLY FISH " UBUR UBUR "

                      Mengenal Lebih Dekat Ubur-Ubur, Si Jeli Hidup yang Elegan
                                                     
Ubur-ubur adalah sejenis binatang laut yang termasuk dalam kelas Scyphozoa. Tubuhnya berbentuk payung berumbai, dapat membuat gatal pada kulit bila tersentuh.
Klasifikasi Ilmiah :
Kerajaan: Animalia
Filum: Cnidaria
Kelas: Scyphozoa
Ordo :Stauromedusae
Filum: Cnidaria
                         Kelas : Hydrozoa (Hydrozoa)
·        Scyphozoa (Scyphozoa) — ubur-ubur
·        Cubozoa (Cubozoa) — ubur-ubur kotak
·         Staurozoa (Staurozoa) — ubur-ubur berjalan
·        Anthozoa (Anthozoa) — koral dan anemon

Cnidaria adalah sebuah filum yang terdiri atas sekitar 9.000 spesies hewan sederhana yang hanya ditemukan di perairan, kebanyakan lingkungan laut. Dari sudut etimologi, kata Cnidaria berasal dari bahasa Yunani “cnidos” yang berarti “jarum penyengat”.
Kemampuan menyengat cnidaria-lah yang merupakan asal nama mereka.Ciri khas Cnidaria adalah knidosit, yang merupakan sel terspesialisasi yang mereka pakai terutama untuk menangkap mangsa dan membela diri. Tubuh mereka terdiri atas mesoglea, suatu bahan tak hidup yang mirip jeli, terletak di antara dua lapisan epitelium yang biasanya setebal satu sel.
Mereka memiliki dua bentuk tubuh dasar: medusa yang berenang dan polip yang sesil, keduanya simetris radial dengan mulut dikelilingi oleh tentakel berknidosit. Kedua bentuk tersebut mempunyai satu lubang jalan masuk yang berfungsi sebagai mulut maupun anus yang disebut manus serta rongga tubuh yang digunakan untuk mencerna makanan dan bernapas. Banyak cnidaria memproduksi koloni yang meruapakan organisme tunggal terdiri atas zooid mirip medusa atau mirip polip atau keduanya. Kegiatan cnidaria dikoordinasikan oleh jaring-jaring saraf tak terpusat serta reseptor sederhana.
Beberapa Cubozoa dan Scyphozoa yang berenang bebas memiliki indera penyeimbang statokista dan ada yang punya ropalia, suatu struktur pengindera kompleks yang dapat termasuk mata pembentuk citra dengan lensa dan retina yang sederhana. Semua cnidaria berkembangbiak secara seksual. Banyak cnidaria memiliki daur hidup yang rumit dengan tingkat perkembangan polip aseksual dan medusa seksual, namun beberapa tidak memiliki polip atau tidak memiliki medusa.
Sengat ubur-ubur membunuh beberapa ratus orang pada abad ke 20 , dan ubur-ubur kotak lah yang terutama sekali berbahaya. Di pihak lain, beberapa ubur-ubur besar dianggap sebagai makanan enak di Asia timur dan selatan. terumbu karang telah lama dianggap penting secara ekonomi sebagai tempat memancing, pelindung bangunan di pantai dari arus dan pasang air laut, dan baru-baru ini sebagai pusat wisata. Namun, mereka rentan terhadap penangkapan ikan berlebih, pertambangan material bangunan, polusi, dan kerusakan akibat pariwisata.

Ciri-ciri khas
Cnidaria membentuk filum hewan yang lebih komplels daripada spons, hampir sekompleks ctenophora (ubur-ubur sisir), dan kurang kompleks dibanding bilateria, yang termasuk hampir semua hewan lain. Akan tetapi, cnidaria dan ctenophora lebih kompleks daripada spons karena mereka memiliki: sel-sel yang diikat oleh penghubung antar-sel dan membran dasar yang mirip karpet; otot; sistem saraf, dan beberapa mempunyai organ pengindera. Cnidaria berbeda dari binatang lain karena memiliki knidosit yang menembak seperti harpun dan digunakan terutama untuk menangkap mangsa dan tambatan pada beberapa spesies.
Seperti spons dan ctenophora, cnidaria mempunyai dua lapisan sel utama yang mengapit lapisan tengah yang mirip jeli yang disebut mesoglea pada cnidaria; hewan yang lebih kompleks memiliki tiga lapisan sel utama dan tidak ada lapisan perantara mirip jeli. Oleh karena itu, cnidaria dan ctenophora disebut sebagai diploblastik secara tradisional, bersama dengan spons.  Akan tetapi, cnidaria dan ctenophora memiliki tipe otot yang, pada hewan yang lebih kompleks, berasal dari lapisan sel tengah.  Sebagai hasilnya beberapa buku teks baru-baru ini mengklasifikasikan ctenophora sebagai triploblastik, dan diperkirakan bahwa cnidaria berevolusi dari moyang yang triploblastik.

Sama halnya dengan ciri ciri makhluk hiduplainnya, berikut karakteristik dari ubur ubur, yaitu


1.      Ubur ubur memiliki bentuk dominan berupa medusa dalam siklus hidupnya.
2.     Sistem gerak pada hewan ini yaitu pada bentuk medusa yang bergerak menggunakan otot yang menarik tubuhnya, sehingga air di dalam rongga tubuhnya akan keluar dan mendorngnya, kemudian mesoglea pada ubur ubur yang tebal dan elastis, digunakan untuk meluncur di air dan bentuknya kembali seperti semula.
3.     Bentuknya seperti mangkuk terbalik, sehingga sering disebut ubur ubur mangkuk terbalik.
4.     Ada yang memiliki tentakel dan ada yang tidak memiliki tentakel.
5.     Pada tentakel umumnya diselimuti dengan sel sel penyengat (knidosit).
6.     Ubur-ubur Scyphozoan kebanyakan pelagis, berenang bebas di laut terbuka.
7.     Ubur-ubur ukuran kecil memakan partikel makanan yang terjebak dari air dan bersimbiosis dengan beberapa alga fotosintetik seperti dinofalgellata.
8.     Pada ubur ubur yang bersifat predator, dalam mencari mangsanya menggunakan organel nematosista yang terdapat di tentakelnya. Nematosista sendiri adalah ciri khas filum Cnidaria, berupa sel berbentuk jarum yang berfungsi menusuk dan mengirim racun ke mangsanya.
9.     Ubur-ubur adalah binatang diploblastik, dengan kata lain mereka mempunyai dua lapisan sel utama. Dua lapisan sel utama ubur-ubur adalah eksoderm di bagian luar dan gastroderm di dalam, di tengahnya adalah mesoglea yang berfungsi sebagai rangka.
10.   Hewan ini tidak punya kepala dan mulut serta anusnya terletak di lubang yang sama, sisi yang dekat mulut disebut oral dan sebaliknya disebut aboral. Sehingga makanan dan kotorannya  masuk dan keluar melalui lubang yang sama.
11.    Sistem pencernaan dengan sistem saluran gastrovaskular yang terdiri dari mulut, manubrium, perut pusat yang bercabang membentuk empat kantung perut, masing masing dibatasi 6 sekat yang disebut septum.
12.   Sistem pernafasan hewan invertebrata ini melalui kedua lapisan sel dengan menyerap oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida ke sekitarnya. Beberapa jenis lain yang bersimbiosis dengan alga fotosintetik untuk mendapatkan oksigen.
13.   Sistem saraf hewan ini di mana sel sel saraf tersebar di seluruh tubuh di mana memiliki cincin otot yang melapisi kubah tubuh yang menyediakan kontraktil yang dibutuhkan untuk berenang di air.
14.   Perkembangbiakan hewan ini mengalami metagenesis, yaitu perkembangan seksual diikuti oleh perkembangbiakan aseksual dalam satu generasi dan memiliki kenis kelamin yang terpisah (dioecious). Spermatozoid keluar dari lubang mulut medusa jantan dan masuk ke dalam usus medusa betina untuk membuahi telurnya. Hasil pembuahannya adalah zigot yang akan berkembang menjadi blastula dilanjutkan menjadi larva bersilia disebut planula. Planula larva dibentuk oleh fertilisasi eksternal; mereka menetap di substrat dalam bentuk polypoid dikenal sebagai scyphistoma. Planula akan tumbuh menjadi polip. Polip bereproduksi secara aseksual dengan membentuk medusa dan begitu seterusnya.

 Sumber :
1. https://richocean.wordpress.com/fauna-lain/ubur-ubur/
2. https://dosenbiologi.com/hewan/klasifikasi-ubur-ubur