BUDIDAYA KEPITING SOKA

Kepiting
adalah binatang anggota krustasea berkaki sepuluh dari upabangsa (infraordo)
Brachyura, yang dikenal mempunyai “ekor” yang sangat pendek (bahasa Yunani:
brachy = pendek, ura = ekor), atau yang perutnya (abdomen) sama sekali
tersembunyi di bawah dada(thorax). Tubuh kepiting dilindungi oleh kerangka luar
yang sangat keras, tersusun dari kitin, dan dipersenjatai dengan sepasang
capit. Ketam adalah nama lain bagi kepiting.
Kepiting
terdapat di semua samudra dunia. Ada pula kepiting air tawar dan darat,
khususnya di wilayah-wilayah tropis. Rajungan adalah kepiting yang hidup di
perairan laut dan jarang naik ke pantai, sedangkan yuyu adalah ketam penghuni
perairan tawar (sungai dan danau).
Kepiting beraneka ragam ukurannya, dari ketam kacang, yang lebarnya hanya beberapa milimeter, hingga kepiting laba-laba Jepang, dengan rentangan kaki hingga 4 m
Berkembangnya pangsa pasar kepiting bakau (Scylla
serrata) baik di dalam maupun di luar negeri adalah suatu tantangan untuk
meningkatkan produksi secara berkesinambungan. Dengan mengandalkan produksi
semata dari alam/tangkapan jelas sepenuhnya dapat diharapkan kesinambungan
produksinya. Untuk itu perlu adanya usaha budidaya bagi jenis crustacea yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Cara
budidaya kepiting bakau soka harus
didukung oleh tersedianya lahan yang bebas polusi, benih dan kemampuan
pengelolaan secara teknis maupun manajemen. Lahan pemeliharaan dapat
menggunakan tambak tradisional sebagaimana dipakai untuk memelihara udang atau
bandeng.
Jenis
– Jenis Kepiting Bakau
Jenis kepiting bakau yang mempunyai nilai ekonomis
tinggi antara lain :
§ Scylla serrata :
jenis ini mempunyai ciri warna keabu-abuan sampai warna hijau kemerah-merahan.
§ Scylla oceanica :
berwarna kehijauandan terdapat garis berwarna coklat pada hampir seluruh bagian
tubuhnya kecuali bagian perut.
§ Scylla transquebarica : berwarna kehijauan sampai kehitaman dengan
sedikit garis berwarna coklat pada kaki renangnya.
Dari ketiga jenis kepiting tersebut diatas, Scylla
serrata pada umur yang sama umumnya berukuran lebih kecil dibandingkan kedua
jenis lainnya. Tetapi dari segi harga dan minta pembeli, jenis pertama tadi
lebih unggul.
Tingkah
Laku dan Kebiasaan Kepiting Bakau
Secara umum tingkah laku dan kebiasaan kepiting bakau
yang dapat diamati adalah sbb:
§ Suka berendam dalam lumpur dan membuat lubang pada
dinding atau pematang tambak pemeliharaan. Dengan mengetahui kebiasaan ini,
maka kita dapat merencanakan atau mendesain tempat pemeliharaan sedemikian rupa
agar kemungkinan lolosnya kepiting yang dipelihara sekecil mungkin.
§ Kanibalisme dan saling menyerang, sifat inilah yang
paling menyolok pada kepiting sehingga dapat merugikan usaha penanganan hidup
dan budidayanya. Karena sifatnya yang saling menyerang ini akan menyebabkan
kelulusan hidup rendah dan menurunkan produktivitas tambak. Sifat kanibalisme
ini yang paling dominan ada pada kepiting jantan, oleh karena itu budidaya
monosex pada produksi kepiting akan memberikan kelangsungan hidup lebih baik.
§ Molting atau ganti kulit. Sebagaimana hewan jenis
crustacea, maka kepiting juga mempunyai sifat seperti crustacea yang lain,
yaitu molting atau ganti kulit. Setiap terjadi ganti kulit, kepiting akan
mengalami pertumbuhan besar karapas maupun beratnya. Umumnya pergantian kulit
akan terjadi sekitar 18 kali mulai dari stadia instar sampai dewasa. Selama
proses ganti kulit, kepiting memerlukan energi dan gerakan yang cukup kuat,
maka bagi kepiting dewasa yang mengalami pergantian kulit perlu tempat yang
cukup luas.
§ Pertumbuhan kepiting akan terlihat lebih pesat pada
saat masih muda, hal ini berkaitan dengan frekuensi pergantian kulit pada saat
stadia awal tersebut. Periode dan tipe frekuensi ganti kulit penting artinya
dalam melakukan pola usaha budidaya yang terkait dengan desain dan konstruksi
wadah, tipe budidaya dan pengelolaanya.
Kepekaan
terhadap Polutan
Kualitas air sangat berpengaruh terhadap ketahanan
hidup kepiting. Penurunan mutu air dapat terjadi karena kelebihan sisa pakan
yang membusuk. Bila kondisi kepiting lemah, misalnya tidak cepat memberikan
reaksi bila dipegang atau perutnya kosong bila dibelah, kemungkinan ini akibat
dari menurunnya mutuair. Untuk menghindari akibat yang lebih buruk lagi,
selekasnya pindahkan kepiting ke tempat pemeliharaan lain yang kondisi airnya
masih segar.
Lokasi
Budidaya kepiting bakau soka
Tambak pemeliharaan kepiting diusahakan mempunyai
kedalaman 0,8-1,0 meter dengan salinitas air antara 15-30 ppt.Tanah tambak
berlumpur dengan tekstur tanah liat berpasir (sandy clay) atau lempung berliat
(silty loam) dan perbedaan pasang surut antara 1,5-2 meter. Disamping syarat
seperti tersebut diatas, pada prinsipnya tambak pemeliharaan bandeng maupun
udang tradisional dapat digunakan sebagai tempat pemeliharaan kepiting.
Faktor
yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi pemeliharaan kepiting, antara
lain :
§ Air yang digunakan bebas dari pencemaran dan jumlahnya
cukup.
§ Tersedia pakan yang cukup dan terjamin
kontinyuitasnya.
§ Terdapat sarana dan prasaranaproduksi dan
pemasarannya.
§ Tenaga yang terampil dan menguasai teknis budidaya
kepiting.
Disain
dan Konstruksi Tambak untuk kepiting bakau soka
Apabila
perlakuan terhadap kepiting selama masa pemeliharaan kurang baik, seperti :
mutu air kurang diperhatikan, makanan tidak mencukupi maka pada saat kepiting
tersebut mencapai kondisi biologis matang telur akan berusaha meloloskan diri,
dengan jalan memanjat dinding/pagar atau dengan cara membuat lubang pada
pematang. Untuk menghindari hal tersebut, maka konstruksi pematang dan pintu
air perlu diperhatikan secermat mungkin. Pada pematang dapat dipasang pagar
kere bambu atau dari waring, hal ini akan mnegurangi kemungkinan lolosnya
kepiting.
Pemasangan pagar kere bambu atau waring pematang yang kokoh (lebar 2-4 meter) dilakukan diatas pematang bagian pinggir dengan ketinggian sekitar 60 cm. Pada tambak yang pematangnya tidak kokoh, pemasangan pagar dilakukan pada kaki dasar pematang dengan tinggi minimal 1 meter.
Pemasangan pagar kere bambu atau waring pematang yang kokoh (lebar 2-4 meter) dilakukan diatas pematang bagian pinggir dengan ketinggian sekitar 60 cm. Pada tambak yang pematangnya tidak kokoh, pemasangan pagar dilakukan pada kaki dasar pematang dengan tinggi minimal 1 meter.
Penebaran
bibit kepiting bakau soka
Pada lokasi penghasil kepiting tangkapan dari alam, pada
musim benih unyuk budiadaya tradisional petani hanya mengandalkan benih
kepiting benih kepiting yang masuk secara alami pada saat pasang surut air.
Setelah beberapa bulan mulai dilakukan panen selektif dengan memungut kepiting
yang berukuran siap jual. Dapat juga kepiting yang sudah mencapai ukuran
tersebut dilepas kembali ke dalam petak pembesaran untuk memperoleh ukuran atau
kegemukan yang lebih besar.
Pada budidaya polikultur dengan ikan bandeng, ukuran
benih kepiting dengan berat 20-50 gram dapat ditebar dengan kepadatan 1000-2000
ekor/Ha, dan ikan bandeng gelondongan yang berukuran berat 2-5 gram ditebar
dengan kepadatan 2000-3000 ekor/Ha. Pada budidaya sistem monokultur benih
kepiting dengan ukuran seperti tersebut diatas ditebar dengan kepadatan 5000-15000
ekor/Ha.
Budidaya
Kepiting Bertelur
Kepiting yang baru saja dipanen dari tambak, dapat
dibudidaya lebih lanjut untuk meningkatkan mutu kepiting betina tidak bertelur
atau bertelur belum penuh menjadi bertelur penuh dengan cara budidaya yang lebih
intensif. Dengan kondisi betelur maka akan menaikkan nilai tambahnya. Karena
harga kepiting betina bertelur dapat mencapai 2-3 kali harga kepiting tidak
bertelur, sehingga hal ini akan sangat membantu menaikkan pendapatan petani
nelayan.
Metode
yang digunakan untuk tujuan produksi kepiting bertelur ada dua macam :
§ Sistim Kurungan : Kurungan
dapat dibuat dari bahan bambu yang dibuat menjadi rangkaian. Lebat bilah bambu
1-2 cm dengan panjang 1,7 meter. Bilah-bilah bambu dirangkai secara teratur
sehingga membentuk kere atau semacam pagar. Kere ini kemudian dipasang pada
saluran tambak memanjang pada pinggirannya, bila dipasang dalam tambak, agar
ditempatkan pada bagian yang relatif lebih dalam dan mendapat penggantian air
yang cukup. Kere atau pagar bambu ditancapkan sedalam 30 cm dengan bagian bawah
dibuat lebih rapat bertujuan agar kepiting tidak lolos. Untuk penempatan
kurungan pada saluran tambak ukurannya disesuaikan dengan lebar saluran
tersebut dan agar tidak mengganggu kelancaran aliran saluran tambak tersebut.
Untuk skala yang lebih besar dapat menggunakan petakan tambak dengan luasan
antara 0,25-0,50 hektar dengan pagar keliling dari kere bambu ataupun dari
waring. pagar bambu ditancapkan sedalam kurang lebih 30 cm dan diusahakan
bagian yang halus menghadap ke dalam dengan maksud agar kepiting tidak dapat
memanjat karena bagian ini licin.
§ Karamba Apung : Selain
menggunakan kurungan, untuk budidaya kepiting bertelur dapat juga menggunakan
karamba apung. Karamba apung dibuat dari rangkaian bilah bambu seperti pada
pembuatan kere, kemudian kere yang sudah dirangkai menjadi kotak, yang
ukurannya disesuaikan dengan lokasi dimana karamba apung akan ditempatkan.
Selanjutnya pada sisi-sisi panjang yang berlawanan dipasang pelampung yang
terbuat dari potongan bambu yang masih utuh atau dari bahan lainnya. Penempatan
karamba apung ini pada tempat bergantian airnya terjadi secara cukup/baik,
seperti pada saluran, tepi sungai dan tempat lainnya yang memenuhi persyaratan
seperti tersebut diatas. Pada usaha budidaya dengan karamba apung ini kepadatan
dapat mencapai 20 ekor/m2, dengan kepadatan tersebut akan meningkatkan
kelulusan hidup kepiting yang dipelihara. Ukuran siap panen kepiting bertelur
sekitar 200 gr/ekor. Proses produksi kepiting bertelur paling lama berlangsung
sekitar 5-14 hari atau tergantung ukuran awal penebaran. Singkatnya masa
pemeliharaan ini juga dimungkinkan karena kepiting betina yang ditebar dengan
berat sekitar 150 gram biasanya sudah mengandung telur.
Usaha
Penggemukan kepiting bakau soka
Usaha budidaya selain dijadikan kepiting bertelur
adalah usaha penggemukan. proses usaha penggemukan sama dengan budidaya
produksi kepiting bertelur. Caranya dapat dengan menggunakan kurungan bambu
atau karamba bambu apung. Perbedaan yang jelas terletak pada kepiting yang
dipelihara. Kepiting yang dipelihara pada usaha penggemukan ini adalah kepiting
berukuran ekspor dari jenis kelamin jantan maupun betina yang masih keropos.
Jangka waktu penggemukan sekitar 5-10 hari, kepiting sudah akan menjadi gemuk
dan berisi bila pemeliharaannya secara baik. Apabila dilanjutkan
pemeliharaannya bagi yang berjenis kelaminbetina, bahkan akan menjadi kepiting
bertelur. Untuk menghindari mortalitas akibat perkelahian antara jantan dan
betina, sebaiknya pemelihraan dilakukan secara monosex.
Pakan
untuk kepiting bakau soka
Berbagai jenis pakan seperti : ikan rucah, usus ayam,
kulit sapi, kulit kambing, bekicot, keong sawah, dll. dari jenis pakan
tersebut, ikan rucah segar lebih baik ditinjau dari fisik maupun kimiawi dan
peluang untuk segera dimakan lebih cepat karena begitu ditebar tidak akan
segera dimakan oleh kepiting.
Pemberian pakan pada usaha pembesaran hanya bersifat
suplemen dengan dosis sekitar 5%. Lain halnya pada usaha kepiting bertelur dan
penggemukan, pemberian pakan harus lebih diperhatikan dengan dosis antara 5-15%
dari erat kepiting yang dipelihara.
Kemauan makan kepiting muda biasanya lebih besar,
karena pada periode ini dibutuhkan sejumlah makanan yang cukup banyak untuk
pertumbuhan dan proses ganti kulit. Kemauan makan akan berkurang pada saat
kepiting sedang bertelur, dan puncaknya setelah telur keluar sepertinya
kepiting berpuasa.
Pasca
Panen Kepiting Bakau
Salah
satu hal yang menguntungkan dalam penanganan kepiting setelah dipanen adalah
kemampuannya bertahan hidup cukup lama pada kondisi tanpa air. Namun demikian,
penanganan yang kurang baik tetap saja akan menurunkan kondisi kesehatannya dan
dapat menyebabkan kematian.
Apabila kepiting setelah dipanen langsung dimasukkan kedalam keranjang dengan mengikat capit, kaki jalan dan kaki renangnya yang merupakan alat gerak yang cukup kuat, maka kepiting tersebut akan saling capit satu dengan yang lainnya.
Apabila kepiting setelah dipanen langsung dimasukkan kedalam keranjang dengan mengikat capit, kaki jalan dan kaki renangnya yang merupakan alat gerak yang cukup kuat, maka kepiting tersebut akan saling capit satu dengan yang lainnya.
Kondisi demikian akan menimbulkan kerusakan secara
fisik pada tubuh kepiting dan mempengaruhi kondisi fisiologis yang akhirnya
dapat mengakibatkan kematian. Untuk mengatasi keadaan tersebut kepiting yang
baru ditangkap harus segera diikat sebelum dimasukkan ke dalam keranjang.
Cara
pengikatan kepiting yang baru ditangkap dapat dilakukan seperti dibawah ini :
§ Pengikatan kedua capit dan seluruh kaki-kakinya
§ Pengikatan capitnya saja dengan satu tali
§ Pengikatan masing-masing capit dengan tali terpisah
§ Tali pengikat dapat menggunakan tali rafia atau jenis
tali lainnya yang cukup kuat. Setelah kepiting diikat, baik pengikatan capitnya
saja maupun pengikatan seluruh kaki-kakinya akan mempermudah penanganan dan
pengangkutannya
Penanganan kepiting yang telah disusun dalam keranjang
yang perlu mendapat perhatian ialah tetap menjaga suhu dan kelembaban. Usahakan
suhu tidak lebih tinggi dari 26°C dan kelembaban yang baik adalah 95%. Cara
yang dapat dilakukan untuk menjaga suhu dan kelembaban ideal bagi kelangsungan
hidup kepiting selama dalam pengangkutan ialah : elupkan kepiting ke dalam air
payau (salinitas 15-25‰) selama kurang lebih 5 menit sambil digoyang-goyangkan
agar kotoran terlepas. Setalah kepiting disusun kembali di dalam wadah.
tutuplah wadah dengan karung goni basah.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar