MENGENAL ALAT TANGKAP CANTRANG

Sejarah
Alat tangkap Cantrang
Danish
seine merupakan salah satu jenis alat tangkap dengan metode penangkapannya
tanpa menggunakan otterboards, jaring dapat ditarik menyusuri dasar laut dengan
menggunakan satu kapal. Pada saat penarikan kapal dapat ditambat (Anchor
Seining) atau tanpa ditambat (Fly Dragging). Pada anchor seining, para awak
kapal akan merasa lebih nyaman pada waktu bekerja di dek dibandingkan Fly
dragging. Kelebihan fly dragging adalah alat ini akan memerlukan sedikit waktu
untuk pindah ke fishing ground lain dibandingkan Anchor seining .
Setelah
perang dunia pertama, anchor seining dipakai nelayan Inggris yang sebelumnya
menggunakan alat tangkap Trawl. Dari tahun 1930 para nelayan Skotlandia dengan
kapal yang berkekuatan lebih besar dan lebih berpengalaman menyingkat waktu dan
masalah pada anchor seining pada setiap penarikan alat dengan mengembangkan
modifikasi operasi dengan istilah Fly Dragging atau Scotish Seining. Pada Fly
Dragging kapal tetap berjalan selagi penarikan jaring dilakukan.
Dilihat
dari bentuknya alat tangkap cantrang menterupai payang tetapi ukurannya lebih
kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya cantrang menyerupai trawl,
yaitu untuk menangkap sumberdaya perikanan demersal terutama ikan dan udang.
Dibanding
trawl, cantrang mempunyai bentuk yang lebih sederhana dan pada waktu
penankapannya hanya menggunakan perahu motor ukuran kecil. Ditinjau dari
keaktifan alat yang hampir sama dengan trawl maka cantrang adalah alat tangkap
yang lebih memungkinkan untuk menggantikan trawl sebagai sarana untuk
memanfaatkan sumberdaya perikanan demersal. Di Indonesia cantrang banyak
digunakan oleh nelayan pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah terutama bagian
utara .
Prospektif
Alat Tangkap Cantrang
Setelah
dikeluarkannya KEPRES tentang pelarangan penggunaan alat tangkap Trawl di
Indonesia tahun 1980, maka cantrang banyak dipilih nelayan untuk menangkap ikan
demersal, karena dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya cantrang ini hampir
memiliki kesamaan dengan jaring trawl.
KONSTRUKSI
ALAT TANGKAP CANTRANG
Konstruksi
Umum
Dari
segi bentuk (konstruksi) cantrang ini terdiri dari bagian-bagian :
Kantong
(Cod End)
Kantong
merupakan bagaian dari jarring yang merupakan tempat terkumpulnya hasil
tangkapan. Pada ujung kantong diikat dengan tali untuk menjaga agar hasil
tangkapan tidak mudah lolos (terlepas).
Badan
(Body)
Merupakan
bagian terbesar dari jaring, terletak antara sayap dan kantong. Bagian ini
berfungsi untuk menghubungkan bagian sayap dan kantong untuk menampung jenis
ikan-ikan dasar dan udang sebelum masuk ke dalam kantong. Badan tediri atas
bagian-bagian kecil yang ukuran mata jaringnya berbeda-beda.
Sayap
(Wing).
Sayap
atau kaki adalah bagian jaring yang merupakan sambungan atau perpanjangan badan
sampai tali salambar. Fungsi sayap adalah untuk menghadang dan mengarahkan ikan
supaya masuk ke dalam kantong.
Mulut
(Mouth)
Alat
cantrang memiliki bibir atas dan bibir bawah yang berkedudukan sama. Pada mulut
jaring terdapat:
Pelampung
(float): tujuan umum penggunan pelampung adalah untuk memberikan daya apung
pada alat tangkap cantrang yang dipasang pada bagian tali ris atas (bibir atas
jaring) sehingga mulut jaring dapat terbuka.
Pemberat
(Sinker): dipasang pada tali ris bagian bawah dengan tujuan agar bagian-bagian
yang dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap berada pada posisinya
(dasar perairan) walaupun mendapat pengaruh dari arus.
Tali
Ris Atas (Head Rope) : berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap
jaring, badan jaring (bagian bibir atas) dan pelampung.
Tali
Ris Bawah (Ground Rope) : berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring,
bagian badan jaring (bagian bibir bawah) jaring dan pemberat.
Tali Penarik (Warp) :Berfungsi untuk menarik jarring selama di operasikan.
Tali Penarik (Warp) :Berfungsi untuk menarik jarring selama di operasikan.
Karakteristik
Menurut George et al, (1953) dalam Subani dan Barus (1989). Dilihat dari bentuknya alat tangkap cantrang menyerupai payang tetapi ukurannya lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapan cantrang menyerupai trawl yaitu untuk menangkap sumberdaya perikanan demersal terutama ikan dan udang, tetapi bentuknya lebih sederhana dan pada waktu penangkapannya hanya menggunakan perahu layar atau kapal motor kecil sampai sedang. Kemudian bagian bibir atas dan bibir bawah pada Cantrang berukuran sama panjang atau kurang lebih demikian. Panjang jarring mulai dari ujung belakang kantong sampai pada ujung kaki sekitar 8-12 m.
Menurut George et al, (1953) dalam Subani dan Barus (1989). Dilihat dari bentuknya alat tangkap cantrang menyerupai payang tetapi ukurannya lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapan cantrang menyerupai trawl yaitu untuk menangkap sumberdaya perikanan demersal terutama ikan dan udang, tetapi bentuknya lebih sederhana dan pada waktu penangkapannya hanya menggunakan perahu layar atau kapal motor kecil sampai sedang. Kemudian bagian bibir atas dan bibir bawah pada Cantrang berukuran sama panjang atau kurang lebih demikian. Panjang jarring mulai dari ujung belakang kantong sampai pada ujung kaki sekitar 8-12 m.
Bahan
Dan Spesifikasinya
a. Kantong :
Bahan terbuat dari polyethylene. Ukuran mata jaring pada bagian kantong 1
inchi.
b. badan :
Terbuat dari polyethylene dan ukuran mata jaring minimum 1,5 inchi.
c. Sayap
: Sayap terbuat dari polyethylene dengan ukuran mata jaring sebesar 5
inchi.
d. Pemberat
: Bahan pemberat terbuat dari timah atau bahan lain.
e. Tali
ris atas : Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene.
f. Tali
ris bawah : Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene.
g. Tali
penarik : Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene dengan diameter
1 inchi.
HASIL
TANGKAPAN
Hasil
tangkapan dengan jaring Cantrang pada dasarnya yang tertangkap adalah jenis
ikan dasar (demersal) dan udand seperti ikan petek, biji nangka, gulamah,
kerapu, sebelah, pari, cucut, gurita, bloso dan macam-macam udang .
DAERAH
PENANGKAPAN
langkah
awal dalam pengperasian alat tangkap ini adalah mencari daerah penangkapan
(Fishing Ground).
Suatu perairan dikatakan sebagai daerah
penangkapan ikan yang baik apabila memenuhi persyaratan dibawah ini:
Di
daerah tersebut terdapat ikan yang melimpah sepanjang tahun.
Alat
tangkap dapat dioperasikan denagn mudah dan sempurna.
Lokasi
tidak jauh dari pelabuhan sehingga mudah dijangkau oleh perahu.
Keadaan
daerahnya aman, tidak biasa dilalui angin kencang dan bukan daerah badai yang
membahayakan.
Penentuan
daerah penangkapan dengan alat tangkap Cantrang hampir sama dengan Bottom
Trawl.
ALAT
BANTU PENANGKAPAN
Alat
bantu penangkapan cantrang adalah GARDEN, alat bantu garden untuk menarik warp
memungkinkan penarikan jaring lebih cepat. Penggunaan garden tersebut
dimaksudkan agar pekerjaan anak buah kapal (ABK) lebih ringan, disamping lebih
banyak ikan yang terjaring sebagai hasil tangkapan dapat lebih ditingkatkan.
Gardanisasi
alat tangkap cantrang telah membuka peluang baru bagi perkembangan penangkapan
ikan, yaitu dengan pemakaian mesin kapal dan ukuran jaring yang lebih besar
untuk di operasikan di perairan yang lebih luas dan lebih dalam.
TEKNIK
OPERASI (SETTING dan HOULING)
Persiapan
Operasi penangkapan dilakukan pagi hari setelah keadaan terang. Setelah ditentukan fishing ground nelayan mulai mempersiapkan operasi penangkapan dengan meneliti bagian-bagian alat tangkap, mengikat tali selambar dengan sayap jaring.
Operasi penangkapan dilakukan pagi hari setelah keadaan terang. Setelah ditentukan fishing ground nelayan mulai mempersiapkan operasi penangkapan dengan meneliti bagian-bagian alat tangkap, mengikat tali selambar dengan sayap jaring.
Setting
Sebelum
dilakukan penebaran jaring terlebih dahulu diperhatikan terlebih dahulu arah
mata angin dan arus. Kedua faktor ini perlu diperhatikan karena arah angin akan
mempengaruhi pergerakan kapal, sedang arus akan mempengaruhi pergerakan ikan
dan alat tangkap. Ikan biasanya akan bergerak melawan arah arus sehingga mulut
jaring harus menentang pergerakan dari ikan.
Untuk
mendapatkan luas area sebesar mungkin maka dalam melakukan penebaran jaring
dengan membentuk lingkaran dan jaring ditebar dari lambung kapal, dimulai
dengan penurunan pelampung tanda yang berfungsi untuk memudahkan pengambilan
tali selambar pada saat akan dilakukan hauling. Setelah pelampung tanda
diturunkan kemudian tali salambar kanan diturunkan → sayap sebelah
kanan → badan sebelah kanan → kantong →badan sebelah
kiri → sayap sebelah kiri → salah satu ujung tali salambar
kiri yang tidak terikat dengan sayap dililitkan pada gardan sebelah kiri. Pada
saat melakukan setting kapal bergerak melingkar menuju pelampung tanda.
Hauling
Setelah proses setting selesai, terlebih dahulu jarring dibiarkan selam ± 10 menit untuk memberi kesempatan tali salambar mencapai dasar perairan. Kapal pada saat hauling tetap berjalan dengan kecepatan lambat. Hal ini dilakukan agar pada saat penarikan jaring, kapal tidak bergerak mundur karena berat jaring. Penarikan alat tangkap dibantu dengan alat gardan sehingga akan lebih menghemat tenaga, selain itu keseimbangan antara badan kapal sebelah kanan dan kiri kapal lebih terjamin karena kecepatan penarikan tali salambar sama dan pada waktu yang bersamaan. Dengan adanya penarikan ini maka kedua tali penarik dan sayap akan bergerak saling mendekat dan mengejutkan ikan serta menggiringnya masuk kedalam kantong jaring.
Setelah diperkirakan tali salambar telah mencapai dasar perairan maka secepat mungkin dilakukan hauling. Pertama-tama pelampung tanda dinaikkan ke atas kapal → tali salambar sebelah kanan yang telah ditarik ujungnya dililitkan pada gardan sebelah kanan → mesin gardan mulai dinyalakan bersamaan dengan mesin pendorong utama hingga kapal bergerak berlahan-lahan → jaring mulai ditarik → tali salambar digulung dengan baik saat setelah naik keatas kapal → sayap jaring naik keatas kapal → mesin gardan dimatikan → bagian jaring sebelah kiri dipindahkan kesebelah kanan kapal → jaring ditarik keatas kapal →badan jaring → kantong yang berisi hasil tangkapan dinaikkan keatas kapal. Dengan dinaikkannya hasil tangkapan maka proses hauling selesai dilakukan dan jaring kembali ditata seperti keadaan semula, sehingga pada saat melakukan setting selanjutnya tidak mengalami kesulitan.
Setelah proses setting selesai, terlebih dahulu jarring dibiarkan selam ± 10 menit untuk memberi kesempatan tali salambar mencapai dasar perairan. Kapal pada saat hauling tetap berjalan dengan kecepatan lambat. Hal ini dilakukan agar pada saat penarikan jaring, kapal tidak bergerak mundur karena berat jaring. Penarikan alat tangkap dibantu dengan alat gardan sehingga akan lebih menghemat tenaga, selain itu keseimbangan antara badan kapal sebelah kanan dan kiri kapal lebih terjamin karena kecepatan penarikan tali salambar sama dan pada waktu yang bersamaan. Dengan adanya penarikan ini maka kedua tali penarik dan sayap akan bergerak saling mendekat dan mengejutkan ikan serta menggiringnya masuk kedalam kantong jaring.
Setelah diperkirakan tali salambar telah mencapai dasar perairan maka secepat mungkin dilakukan hauling. Pertama-tama pelampung tanda dinaikkan ke atas kapal → tali salambar sebelah kanan yang telah ditarik ujungnya dililitkan pada gardan sebelah kanan → mesin gardan mulai dinyalakan bersamaan dengan mesin pendorong utama hingga kapal bergerak berlahan-lahan → jaring mulai ditarik → tali salambar digulung dengan baik saat setelah naik keatas kapal → sayap jaring naik keatas kapal → mesin gardan dimatikan → bagian jaring sebelah kiri dipindahkan kesebelah kanan kapal → jaring ditarik keatas kapal →badan jaring → kantong yang berisi hasil tangkapan dinaikkan keatas kapal. Dengan dinaikkannya hasil tangkapan maka proses hauling selesai dilakukan dan jaring kembali ditata seperti keadaan semula, sehingga pada saat melakukan setting selanjutnya tidak mengalami kesulitan.
HAL-HAL
YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PENANGKAPAN
Kecepatan
dalam menarik jaring pada waktu operasi penangkapan.
Arus
: Arus akan mempengaruhi pergerakan ikan dan alat tangkap. Ikan biasanya akan
bergerak melawan arah arus sehingga mulut jaring harus menentang pergerakan
dari ikan.
Arah
angin
Arah
angin akan mempengaruhi pergerakan kapal pada saat operasi penangkapan
dilakukan.
DAFTAR
PUSTAKA
~ Ayodyoa, 1972. Kapal
Perikanan. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ayodyoa, 1975. Fishing Methods. Proyek Peningkatan / Pengembangan Perguruan Tinggi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ayodyoa, 1975. Fishing Methods. Proyek Peningkatan / Pengembangan Perguruan Tinggi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
~ Damanhuri,
1980. Diktat Fishing Ground Bagian Tehnik Penagkapan Ikan. Fakultas Periakanan.
Universitas Brawijaya. Malang. 56, 57 hal.
~ Dickson,
1959. The Use Of Danish Seine, Modern Fishing Gear Of The World. Japan
International Cooperation Agency. Tokyo
~ Martosubroto,
1987. Penyebaran Beberapa Sumber Perikanan Di Indonesia. Direktorat Bina
Sumberdaya Hayati. Direktorat Jendral Perikanan. Departemen Pertanian. Jakarta.
~ Muhammad,
S, Sumartoyo, M. Mahmudi, Sukandar dan agus Cahyono, 1997. Studi Pengembangan
Paket Teknologi Alat Tangkap Jaring Dogol (Danish Seine) Dalam Rangka
Pemanfaatan Sumberdaya Ikan-Ikan Demersal Di Perairan Lepas Pantai Utara Jawa
Timur. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang.
~ Subani,
W dan H.R. Barus, 1989. Alat Penangkapan Ikan Dan Udang Laut Di Indonesia.
Balai Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.
~ Laut
biru
http://taninelayanku.blogspot.co.id/2013/11/alat-tangkap-cantrang.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar