Jumat, 27 Maret 2020


PEMBUATAN GARAM
 

 Dalam rangka menjamin kebutuhan garam dalam negeri baik untuk kebutuhan konsumsi maupun  industri dibutuhakan pembukaan lahan penggaraman baru ( ekstensifikasi ) diatas lahan garam potensial di Indonesia timur , khususnya Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tengah., karena disamping tersedianya lahan yang ada juga musim kemarau di wilayah tersebut mencapai kurang lebih sampai 8 ( delapan ) bulan.Tetapi hal ini memerlukan waktu yang panjang  dan modal yang besar juga harus ada investor yang mau bekerja sama.

MEROBAH LAHAN GARAM RAKYAT DARI TRADISIONAL MENJADI SEMI INTENSIF
a. Konstruksi lahan tradisional
Gambar Lahan Pola Tradisional
Dari gambar diatas adalah pola lahan tradisional, dimana perbandingan antara kolam penampung air muda ( buffer ) , kolam peminihan ( penguapan ) dan kolam penampung air tua ( bunker ) dengan meja kristalisasi hampir berbanding 65% : 35% dan hal inilah diantara penyebab hasil produksi garam rakyat tidak akan lebih dari 100 ton per hektar permusim , karena tata letak luasan lahan garam didapat secara turun temurun dan petani tambak garam tidak ada upaya sama sekali untuk meningkatkan hasil produksinya, karena keterbatasan informasi teknologi baru yang selama ini  mereka belum dapatkan.  Kalaupun petani akan mencoba menambah luasan meja Kristal hal ini akan menghadapi kendala didalam penyiapan air tua yang akan dilepas pada meja Kristal karena pada umumnya mereka tidak memiliki kolam penampung air tua
b. Konstruksi lahan semi intensif
GAMBAR LAHAN POLA SEMI INTENSIF
Sangatlah nyata hasil produksi garam rakyat dari 60 – 80 ton per hektar per musim menjadi 150 ton per hekter per musim yaitu dengan merobah lahan garam dari pola tradisional menjadi pola semi intensif . karena dari pola semi intensif ini akan didapat beberapa keuntungan 
1. Luasan perbandingan lahan 35% untuk kolam buffer , meja peminihan dan bunker , dan 65% meja Kristal. Sehingga meja Kristal dapat di buat sampai 48 meja per hektarnya, sedangkan pada pola tradisional hanya 20 meja Kristal setiap hektarnya.
2. Adanya sistim ulir yang digunakan dari meja peminihan sampai ke kolam penampungan air tua ( bunker ) , karena pada sistim ulir ini akan mempercepat proses perolehan air tua.
3. Tersedianya bunker sebagai kolam penampungan air tua , sehingga petani garam tidak akan kesulitan ( kekurangan ) air tua yang akan dilepas kemeja Kristal 
4. Waktu proses persiapan produksi akan lebih cepat yakni hanya 15 hari , karena proses pembuatan air baku ( air tua ) menggunakan sistim ulir. Sedangkan pada pola tradisional untuk persiapan proses produksi mencapai 40 hari.

Permasalahan yang ada pada produksi garam rakyat saat ini  adalah kurangnya kualitas dan kuantitas  terhadap kebutuhan garam nasional seiring dengan bertambahnya penduduk dan pesatnya perkembangan industri terhadap kebutuhan garam, hal ini ada beberapa  permasalahan pokok yang perlu diselesaikan secara bersama oleh instansi yang terkait dengan produksi garam nasional, adapun permasalahan tersebut diantaranya adalah tentang teknologi dan teknis produksi.
a. Areal sarana
Luas areal pada pegaraman rakyat yang dimiliki secara perorangan sangat kecil yaitu berkisar antara 0,5 sampai dengan 5 hektar per unit dengan penataan petak peminihan dengan petak kristalisasi yang tidak memenuhi persyaratan dimana petak peminihan lebih sangat luas dibandingkan dengan petak kristalisasi
b. Proses
Secara umum dalam proses produksi garam rakyat adalah total kristalisasi , dimana air tua yang berada dimeja peminihahan bila dianggap mencukupi kepekatanya langsung dialirkan kemeja – meja kristalisasi, tanpa pengontrolan kepekatan larutan air garam yang memenuhi syarat. Selain hal tersebut juga didalam pemadatan atau pengolahan meja kristalisasi  kurang bagus atau kurang padat sehingga pada saat pemanenan kemungkinan permukaan meja tanahnya akan ikut terbawa sehingga warna kristal garam akan menjadi keruh atau coklat.
c. Produktifitas :
Produktifitas rata – rata petani garam berkisar 60 ton sampai 80 ton  per hektar permusim dikarenakan petakan – petakan proses produksi garam masih belum tertata secara benar atau  tetap sama secara turun temurun tanpa sentuhan teknologi apapun
d. Mutu garam
Garam yang dihasilkan dalam  bentuk kristal yang kecil dan rapuh hal ini dikarenakan pada proses pelepasan air tua yang belum saatnya serta waktu pemanenan yang terlalu pendek yakni berkisar 3 s.d 5 hari
Masalah Teknologi Produksi
a. Teknis Produksi
Peralatan dan cara produksi masih sederhana, saluran air bahan baku tidak tertata sehingga pasokan air sebagai bahan baku tidak kontinyu, Kemampuan petani garam didalam mengolah lahan garam untuk peningkatan produksi  terpusat di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, sedangkan SDM di Indonesia Timur kualitasnya masih harus ditingkatkan.
b. Iklim
Musim kemarau di pulau jawa relative pendek yaitu berkisar 4 s.d. 5 bulan pertahun dengan kelembaban yang tinggi, sehingga produktivitas garam pertahun rendah, sedangkan untuk Indonesia timur musim kemarau hingga 7 s.d. 8 bulan
c. Produktivitas Lahan
Produktivitas lahan garam rakyat rata – rata masih rendah yaitu sekitar 60 s.d 80 ton/ha/musim
d. Kualitas Produk
Kualitas produk tidak seragam dengan kandungan zat pencemar yang tinggi. Sehingga untuk peningkatan kualitas atau pemurnian kristal garam melalui pencucian menyebabkan naiknya biaya, oleh Karena itu garam rakyat cenderung dijual dengan kualitas seadanya. Sebagai perbandingan garam konsumsi produksi PT. Garam mengandung NaCl 95 % – 97 %, sedangkan garam rakyat mengandung NaCl lebih kecil dari 95%.
e. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana garam rakyat belum tertata dan kurang memadai. Tata letak pegaraman rakyat umumnya tidak teratur dan terpencar-pencar, sarana jalan yang menghubungkan petak/lahan dengan jalan raya sebagai sarana transportasi hampir dikatakan tidak ada atau tidak memadai. Hal ini menyebabkan biaya angkut ke tepi jalan raya (transportasi ke atas truk pengangkut) menjadi tinggi sehingga pendapatan pembudidaya garam pada umumnya menjadi lebih kecil karena dipotong biaya transport yang cukup besar.
Sedangkan untuk meningkatkan mutu garam rakyat yang perlu dilaksanakan oleh pembudidaya garam adalah pengontrolan air tua yang akan dilepas kemeja kristalisasi dimana air tua yang akan dilepas harus mempunyai kepekatan 25° Be agar didapat kristal garam yang baik yaitu kristal garam tersebut tidak mudah rapuh dengan waktu pemanenan minimal 10 hari.
Lahan Garam dengan Teknologi Geo Membrane
Tahapan teknologi geo membrane
1. Lahan yang mau digunakan harus di rubah tata letaknya yaitu dari lahan tradisional menjadi semi intensif perubahan tata letak ini dimaksudkan untuk meningkatkan hasil produksi, dimana pada lahan semi intensif terdiri dari beberapa petakan 
a. Kolam penampung air muda 
b. 2 buah kolam peminihan 
c. Kolam ulir
d. Kolam penampung air tua
e. Meja kristalisasi
Dari perubahan lahan tersebut akan dapat meningkatan produksi yang sangat nyata yaitu mencapai 40% hingga 60% hal ini disebabkan dari perbandingan luas lahan dimana 35 % luas lahan digunakan untuk kolam penampung air tua, kolam peminihan, kolam ulir dan kolam penampung air tua, sedangkan 65 % digunakan untuk meja kristal, selain produksi meningkat keuntungan yang lain dari sistim semi intensif ini adalah masa produksi yang lebih cepat dimana dalam waktu 14 hari akan cepat didapat air tua sedangkan pada lahan tradisional untuk mendapatkan air tua sampai 30 hari.
b. Melapisi meja kristalisasi dengan terpal plastik 
Untuk meningkatkan mutu garam rakyat yang saat ini menjadi tuntutan pasar maka petani garam harus mau menambah sarana yang ada. Karena saat ini produksi garam rakyat dinilai kurang memenuhi syarat SNI, yakni nilai NaCl yang rendah, warna buram kecoklatan dan rapuh. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan yang ada maka saat ini dikembangkan teknologi geo membrane. Didalam teknologi geo membrane seluruh meja kristalisasi dilapisi terpal plastik hal ini untuk menjamin terhadap kebersihan produksi garam.
c. Terpal Plastik yang di gunakan.
 Terpal plastik yang digunakan untuk geo membrane bisa menggunakan  nomor A 12 atau plastik HDPE dengan ketebalan 500 mikron, karena plastic ini mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, dimana dalam penggunaanya mampu bertahan sampai empat musim garam dengan perawatan yang baik. Di dalam perawatan plastic ini, apabila tidak musim garam harus di lepas dari meja kristalisasi kemudian dicuci dan digulung kembali terus disimpan dalam bak air, jangan disimpan pada tempat yang kering, karena kemungkinan akan dirusak oleh tikus.
d. Cara Pemasangan geo membrane
·       Ukur luasan plastik geo membrane yang akan di gunakan 
·       Buat galengan pada meja kristalisasi sesuai dengan luasan plastik geo membrane
·       Guluk atau padatkan meja kristalisasi agar permukaan meja kristalisasi rata.
·       Bentangkan plastik geo membran pada meja kristalisasi hingga menutupi seluruh permukaan galengan.
·       Kuatkan pada tepi plastik geo membrane dengan cara memberi pasak kayu pada bagian tepi plastik geo membrane.

SUMBER :
1.    Buku Panduan Pembuatan Garam Bermutu 2002. Badan Riset Kelautan dan Perikanan.Pusat Riset Wilayah Laut dan  Sumberdaya  Nonhayati. Proyek Riset Kelautan dan Perikanan .
2.    Pemberdayaan Garam Rakyat.2003. Direktorat Jendral Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan
3.    Buku Panduan Diklat Teknis Pemberdayaan Garam Rakyat 2010. Balai Diklat Perikanan Tegal.
4.    http://www.bppp-tegal.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar