PENGANGKUTAN IKAN HIDUP
Pengangkutan adalah kegiatan
memindahkan atau membawa suatu barang, atau benda lainnya dari satu tempat ke
tempat lainnya. Tujuan utama pengangkutan adalah barang yang dibawa bisa sampai
di tempat tujuan dalam keadaan utuh, atau tidak rusak sedikitpun. Perubahan
bentuk, perubahan rasa, dan ke-tidak-lengkapan dapat menurunkan nilai barang
itu. Agar tujuan itu bisa terwujud, maka alat yang digunakan dalam pengangkutan
harus cocok, yaitu alat yang bisa menjaga keutuhan barang itu. Selain itu,
pengangkutan juga harus menggunakan cara yang baik. Bila keduanya tidak
dilakukan, sudah pasti barang itu tidak akan sampai dalam keadaan utuh. Keadaan
itu sangat merugikan.
Seperti pengangkutan barang,
pengangkutan ikan juga memiliki arti dan tujuan yang sama. Namun alat, dan cara
yang digunakan dalam pengangkutan ikan berbeda dengan alat, dan cara dalam
pengangkutan buku. Karena buku benda mati yang tidak mudah rusak. Sedangkan
ikan mahluk hidup yang kemungkinan besar bisa rusak, bahkan mati.
Untuk menentukan alat dan alat pengangkutan sangat tergantung dari karakteristik, dan sifat-sifat hidup ikan, terutama segala sesuatu yang berhubungan dengan pernapasannya. Jangan sampai selama pengangkutan alat pernapasannya terganggu. Itu bisa menyebabkan kematian total.
Pada
pasaran internasional saat ini terjadi suatu kecenderungan pergeseran suatu
permintaan pasar untuk komoditas perikanan yaitu dari bentuk mati (beku, olahan
lain) ke bentuk hidup. Dalam hal ini tentu saja menimbulkan banyak masalah
karena pengangkutan ikan dalam kondisi hidup disamping mempunyai resiko tinggi
juga biaya yang tinggi.
Untuk pengangkutan ikan ukuran konsumsi misalnya, sangat diharapkan dapat
mempertahankan kualitas ikan melalui dari daerah pemanenan sampai daerah
pemasaran.Ikan untuk ukuran konsumsi ukurannya yang biasa dipasarkan adalah 500
sampai 100 gram.Pada transportasi ikan ukuran konsumsi dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu pengangkutan ikan dalam air dan tanpa air atau dalam kondisi
lembab .
Sedangkan
untuk Transportasi benihmerupakan bagian penting dalam kegiatan budidaya ikan
yang sangat menentukan keberhasilan usaha di tahap selanjutnya. Sesuai dengan
namanya, transportasi ikan hidup bertujuan agar ikan yang ditransportasikan
tetap dalam kondisi hidup hingga ikan
tersebut ditebar di tempat tujuan.
Kerusakan
benih ikan,dapat saja
terjadi bila terjadi kesalahan dalam cara penanganan dalam proses transportasi
benih.Dalam pengangkutan benih resiko kematiannya besar, karena pada waktu
diangkut benih masih dalam
keadaan lemah.
Perdagangan
ikan hidup disebabkan karena harganya yang dapat mencapai tiga sampai empat
kali lipat harga ikan mati. Teknologi transportasi ikan hidup yang sesuai
dengan tuntutan komoditi dan kondisi sangat diperlukan. Keberhasilan
transportasi ikan dapat ditentukan oleh kualitas kemasan yang digunakan.
Kemasan berfungsi sebagai wadah, pelindung, penunjang cara penyimpanan dan
transportasi serta sebagai alat persaingan dalam pemasaran.
Kemasan
yang digunakan untuk ikan hidup berfungsi untuk mendukung mempertahankan agar
ikan tetap dalam keadaan pingsan. Selain itu kemasan juga berfungsi sebagai
insulator panas yang dapat menahan distribusi panas dari luar kedalam
kemasan.
Salah
satu penentu kualitas kemasan adalah bahan pengisi yang digunakan dalam kemasan
itu sendiri. Bahan pengisi seperti serbuk gergaji, serutan kayu, kertas Koran,
busa dan lain sebagainya berfungsi sebagai penahan ikan hidup agar tidak
bergeser dalam kemasan,
Dalam pengangkutan ikan hidup perlu dilakukan teknik khusus, berbeda dengan ikan mati. Ikan yang sudah mati hanya diharapkan tetap segar untuk sampai ke tujuan namun untuk ikan hidup, ikan harus tetap hidup dan dalam keadaan sehat hingga sampai ke tempat tujuan.Teknik pengangkutan ikan hidup dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu : yaitu teknik basah yang menyertakan media air; dan teknik kering, tanpa penyertaan air.
Proses
Pemingsanan/Imotilisasi meliputi 3 tahap :
1. Berpindahnya bahan pembius dari lingkungan ke dalam alat pernafasan
1. Berpindahnya bahan pembius dari lingkungan ke dalam alat pernafasan
suatu organisme
2. Difusi membran dalam tubuh yang menyebabkan terjadinya
2. Difusi membran dalam tubuh yang menyebabkan terjadinya
penyerapan
bahan pembius ke dalam darah
3. Sirkulasi darah dan difusi jaringan menyebarkan substansi pembius ke
3. Sirkulasi darah dan difusi jaringan menyebarkan substansi pembius ke
seluruh tubuh
1.
Pengangkutan ikan hidup dengan teknik basah
Pada
pengangkutan ikan hidup dengan teknik basah, ada beberapa hal yang sangat
penting untuk diperhatikan yaitu kandungan oksigen (O2), jumlah dan berat ikan,
kandungan amoniak dalam air, karbondioksida (CO2), serta pH air. Jumlah O2 yang
dikonsumsi ikan tergantung jumlah oksigen yang tersedia. Jika kandungan O2
meningkat, ikan akan mengonsumsi O2 pada kondisi stabil, dan ketika kadar O2
menurun konsumsi ikan atas O2 akan lebih rendah.
Sementara
itu, nilai pH air merupakan faktor kontrol yang bersifat teknis akibat
perubahan kandungan CO2 dan amoniak. CO2 sebagai hasil respirasi ikan akan
mengubah pH air menjadi asam. Perubahan pH menyebabkan ikan menjadi stres, dan
cara menanggulanginya yaitu dengan menstabilkan kembali pH air selama
pengangkutan dengan larutan bufer.
Ada
beberapa cara yang dapat dilakukan dalam pengangkutan ikan hidup menggunakan
teknik basah yaitu pengangkutan dengan sistem terbuka dan sistem tertutup.
Pengangkutan dengan sistem terbuka biasanya hanya dilakukan jika jarak
waktu dan jarak tempuhnya tidak terlalu jauh dan menggunakan wadah yang
terbuka. Sistem ini mudah diterapkan. Berat ikan yang aman untuk
diangkut dengan sistem terbuka tergantung efisiensi sistem aerasi, lama
pengangkutan, suhu air, ukuran, dan jenis ikan.
Sementara
itu, pengangkutan ikan hidup dengan sistem tertutup dilakukan menggunakan wadah
tertutup dan memerlukan suplai oksigen yang cukup. Karena itu, perlu
diperhatikan beberapa faktor penting yang memengaruhi keberhasilan pengangkutan
yaitu kualitas ikan, oksigen, suhu, pH, CO2, amoniak, serta kepadatan dan
aktivitas ikan.
2.
Pengangkutan ikan hidup dengan teknik kering
Dalam
pengangkutan teknik kering, media yang digunakan bukanlah air. Namun, ikan
harus dikondisikan dalam aktivitas biologis rendah (dipingsankan) sehingga
konsumsi ikan atas energi dan oksigen juga rendah.
Semakin
rendah metabolisme ikan, semakin rendah pula aktivitas dan konsumsi oksigennya.
Dengan begitu, ketahanan hidup ikan untuk diangkut di luar habitatnya semakin
besar.
Terdapat tiga cara pemingsanan yang dapat
dilakukan pada ikan, yaitu :
• Penggunaan suhu rendah,
• Penggunaan suhu rendah,
• Pembiusan dengan zat kimia, dan
• Penyetruman dengan arus listrik.
Pemingsanan
dengan penggunaan suhu rendah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penurunan
suhu secara langsung dan penurunan suhu secara bertahap. Pemingsanan ikan
menggunakan penurunan suhu secara langsung dilakukan dengan cara ikan
dimasukkan dalam air bersuhu 10-15oC sehingga ikan pingsan seketika.
Sementara,
Pemingsanan
ikan menggunakan penurunan suhu secara bertahap dapat dialkuakn dengan cara
penurunan suhu air sebagai media ikan secara bertahap sampai ikan
pingsan.Pembiusan dengan ikan zat kimia dilakukan dengan menggunakan bahan
anestasi (pembius).
Bahan
anestasi yang digunakan untuk pembiusan ikan yaitu MS-222, Novacaine, Barbital
sodium, dan bahan lainnya tergantung berat dan jenis ikan. Selain bahan-bahan
anestasi sintetik, pembiusan juga dapat dilakukan dengan zat cauler pindan
cauler picin yang berasal dari ekstrak rumput laut Caulerpa sp.
Sumber:
1. Efendi R (2013). Pengangkutan Ikan Hidup.
2. http://infotani14.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar