BUDIDAYA TERIPANG LAUT
Teripang adalah binatang laut berkulit duri (berbulu-bulu
hitam) sebesar mentimun muda. Sebelum diperdagangkan komoditi yang sering juga
disebut dengan sea cucumber (ketimun laut) dikeringkan terlebih dahulu. Hewan
ini hidup sampai pada kedalaman lebih dari 30 meter. Di pasar lokal, harga
teripang Rp 30.000 – Rp 150.000 per kg. Karena harganya yang amat menggiurkan
itu, banyak pihak yang mencoba mencari teripang dimana pun berada. Perburuan
teripang oleh nelayan Madura dan Bugis bahkan sampai kawasan terumbu Ashmore di
perairan utara Australia.
1.
Pemilihan Lokasi Budidaya
Pemilihan
lokasi merupakan langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan budi daya.
Selain itu, beberapa pertimbangan bioekologi, sosial ekonomi, dan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku juga harus dipenuhi agar kemungkinan timbulnya
beberapa hambatan/masalah di kemudian hari bisa diantisipasi sedini mungkin.
Pada
umumnya budi daya teripang dilakukan di perairan pantai pada kawasan pasang
surut. Ini disebabkan karena potensi lahan pantai masih cukup luas. Namun
demikian, teripang mempunyai kemungkinan pula untuk dibudidayakan di kolam air
laut (tambak) dengan syarat tertentu.
Secara
umum, perairan pantai yang memiliki benih teripang alami cocok untuk tempat
budi daya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan suatu lokasi yang tidak
memiliki benih alami juga cocok untuk tempat budi daya.
Jenis
teripang yang sudah dan banyak dibudidayakan di negara kita ialah teripang
putih (Holothuria scabra). Hal ini dikarenakan harga teripang ini mahal,
pertumbuhannya cepat, lebih toleran terhadap perubahan lingkungan, dan dapat
dibudidayakan dengan padat penebaran tinggi. Oleh karena itu,
pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan lokasi ini diutamakan untuk jenis
teripang putih walaupun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan pada
jenis-jenis teripang lain. Hal ini mengingat setiap jenis teripang mempunyai
sifat biologi spesifik yang berbeda, tetapi secara umum habitatnya relatif
sama.
Pertimbangan
dalam pemilihan lokasi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Keterlindugan
Lokasi
budi daya harus terlindung dari pengaruh ams, gelombang, maupun angin yang
besar. Arus, gelombang, atau angin yang besar akan memsak sarana budi daya
serta menyulitkan dalam pengelolaan budi daya. Lokasi yang terlindung dari
pengaruh seperti ini biasa diketemukan di perairan teluk, laguna, atau perairan
terbuka yang terlindung oleh gugusan pulau atau karang penghalang.
b. Kondisi dasar perairan
Dasar
perairan hendaknya berpasir atau pasir berlumpur bercampur dengan pecahan-pecahan
karang dan banyak terdapat tanaman air semacam rumpt laut (sea weed) dan
alang-alang laut (sea gress)
c. Salinitas air laut
Dengan
kemampuan yang terbatas dalam pengaturan osmotik, maka teripang tidak dapat
bertahan hidup terhadap perubahan salinitas yang terjadi secara drastis.
Salinitas optimum adalah 30-33 ppt.
d. Kedalaman air
Secara
alami teripang hidup pada kedalaman perairan yang berbeda-beda menurut
besarnya. Teripang muda tersebar didaerah pasang surut, setelah ukurannya
bertambah besar maka berpindah ke dasar perairan yang lebih dalam. Lokasi yang
cocok untuk budidaya teripang sebaiknya pada kisaran kedalaman air antara
0,5-1,5 m pada air surut terendah.
e. Ketersediaan benih
Lokasi
pengembangan budidaya teripang sebaiknya tidak jauh dari tempat pengumpulan
benih secara alamiah. Terdapat benih alamiah pada periaran tersebut adalah
suatu indikator yang baik untuk lokasi budidaya teripang.
f. Kondisi Lingkungan
Kondisi
perairan sebaiknya harus memenuhi standar kualitas air laut yang baik bagi
kehidupan ( laju pertumbuhan dan sintasan). Teripang yang dibudidayakan,
seperti : suhu air 20-250 C, pH air 6,5-8,5 , kadar oksigen terlarut 4-8 ppm,
dan kecerahan 0,5-1,5 cm (cahaya matahari sampai kedasar), serta lokasi
budidaya harus bebas dari pencemaran seperti limbah organik, logam berat,
minyak dan bahan-bahan beracun lainnya.
g. Perairan Jernih.
Perairan
harus jemih, bebas pencemaran dengan nilai kecerahan 50 – 150 cm yang diukur
dengan piring seicchi.
h. Kemudahan
Lokasi
budi daya harus mudah dijangkau. Selain itu, sarana produksi harus mudah
diperoleh dan pemasaran harus dapat dilakukan dengan mudah di tempat itu.
Pertimbangan lainnya, lokasi budi daya sebaiknya bukan merupakan. pusat
kegiatan nelayan, bukan daerah penangkapan ikan, bukan wilayah pelayaran, dan
bukan daerah pariwisata sehingga benturan kepentingan dapat dihindarkan.
2.
Perizinan Budidaya
Dalam
mendirikan tempat budidaya tidak bisa sembarangan mendirikan. Perlu ada
perizinan kepada pemerintah daerah setempat yaitu pemda Kepulauan Karimun Jawa
untuk mendirikan tempat budidaya. Dasar hukum dalam pendirian lokasi budidaya
adalah Keputusan Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial, Nomor
70/PS.5/KPTS/IX/2008 tanggal 26 September 2008 tentang penetapan kelompok usaha
bersama di provionsi kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan/desa penerima program
pemberdayaan fakir miskin melalui mekanisme bantuan langsung pemberdayaan
sosial (BLPS).
3.
Pemilihan Benih

Setelah
izin pendirian lokasi budidaya telah didapatkan oleh pemerintah daerah Kepulauan
Karimun Jawa, maka langkah selanjutnya sebelum melakukan kegiatan budidaya
adalah pemilihan benih unggul yang akan dijadikan induk dan akan dibesarkan.
Adapun untuk memilih benih unggul teripang dapat dilihat dari berbagai aspek,
antara lain :
a. Tubuh tidak cacat.
b. Ukuran besar dengan berat 400
gr dan panjang tubuh minimal 20 cm.
c. Berkulit tebal.
Umumnya
berat tubuh teripang berpengaruh langsung atau berkolerasi terhadap berat gonad
dan indeks kematangan gonad serta fekunditas. Pengangkutan induk dari tempat
pengumpulan dapat dilakukan dengan wadah, seperti ember plastik yang berisi air
laut atau langsung ditempatkan pada palka perahu. Untuk pengumpulan/pengankutan
calon induk pada siang hari sebaliknya wadah penampungan atau palka ditutup
teripang atau ilalang laut untuk menghindarkan calon induk dari sinar matahari
secara langsung. Pengangkutan induk dari tempat pengumpulan dapat dilakukan
dengan wadah, seperti ember plastik yang berisi air laut atau langsung
ditempatkan pada palka perahu.
Budidaya Teripang
Budidaya Teripang
Metode
yang digunakan untuk membudidayakan teripang (ketimun laut) yaitu dengan
menggunakan metode penculture. Metode penculture adalah suatu usaha memelihara
jenis hewan laut yang bersifat melata dengan cara memagari suatu areal perairan
pantai seluas kemampuan atau seluas yang diinginkan sehingga seolah-olah
terisolasi dari wilayah pantai lainnya.
Bahan
yang digunakan ialah jaring (super-net) dengan mata jaring sebesar 0,5 – 1 inci
atau dapat juga dengan bahan bambu (kisi-kisi). Dengan metode ini maka
lokasi/areal yang dipagari tersebut akan terhindar dari hewan-hewan pemangsa
(predator) dan sebaliknya hewan laut yang dipelihara tidak dapat keluar dari
areal yang telah dipagari tersebut.
Pemasangan
pagar untuk memelihara teripang, baik pagar bambu (kisi-kisi) ataupun jaring
super net cukup setinggi 50 cm sampai 100 cm dari dasar perairan. Luas lokasi
yang ideal penculture ini antara 500 – 1.000 m2.
a. Sumber benih
teripang
Benih
teripang dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu :
·
melakukan pemungutan
dari alam dan
·
dengan memelihara
induk-induk teripang pada petak-petak di dalam area penculture.
Teripang yang
dijadikan induk ialah yang sudah dewasa atau diperkirakan sudah dapat melakukan
reproduksi dengan ukuran berkisar antara 20 – 25 cm. Sedangkan benih teripang
alam yang baik untuk dibudidayakan dengan metoda penculture adalah yang
memiliki berat antara 30 sampai 50 gram per ekor atau kira-kira memiliki
panjang badan 5 cm sampai 7 cm. Pada ukuran tersebut benih teripang diperkirakan
sudah lebih tahan melakukan adaptasi terhadap lingkungan yang baru.
b. Pengangkutan
benih/induk
Di
dalam hal budidaya teripang cara pengangkutan benih/ induk merupakan hal yang
penting. Lebih-lebih apabila sumber benih/induk teripang yang akan dibudidayakan
letaknya relatif jauh, sehingga diperlukan teknik yang baik didalam
pengangkutan teripang tersebut agar tetap hidup sampai di lokasi budidaya.
Metode pengangkutan teripang agar dapat memberikan tingkat kehidupan yang
tinggi adalah sebagai berikut:
* Teripang dimasukan pada kantong
plastik ukuran 2 liter dengan media air dan pasir. Sebelumnya kantong plastik
digelembungkan untuk melihat kantong tersebut bocor atau tidak.
* Kepadatan untuk masing-masing
jenis adalah : untuk teripang putih dan teripang grido dengan berat antara
100-200 g adalah 3 ekor untuk setiap kantong, sedangkan untuk teripang jenis
olok-olok 4 ekor untuk setiap kantong plastik.
c. Makanan Teripang
Faktor
makanan dalam pemeliharaan (budidaya teripang tidak menjadi masalah sebagaimana
halnya hewan-hewan laut lainnya. Teripang dapat memperoleh makanannya dari
alam, berupaplankton dan sisa-sisaendapan karang yang beracadi dasar laut.
Namun demikian untuk lebih mempercepat pertumbuhan teripang dapat diberikan
makanan tambahan berupa campuran dedak dan pupuk kandang (kotoran ayam).
Cara
pemberian makanan tambahan tersebut adalah sebagai berikut :
* Dedak halus dan kotoran ayam dicampur rata
* Campuran dimasukkan kedalam kantong plastik
* Kemudian direndam deism air laut sampai campuran menjadi lengket,
* Campuran dimasukkan kedalam kantong plastik
* Kemudian direndam deism air laut sampai campuran menjadi lengket,
lalu dibentuk menjadi gumpalan.
* Gumpalan tersebut kemudian disebar merata kedalam kurungan.
* Gumpalan tersebut kemudian disebar merata kedalam kurungan.
Cara lain agar pupuk
tidak hanyut dapat dilakukan sebagai berikut:
* Pupuk dimasukkan ke dalam karung plastik dan
ditenggelamkan ditempat pemeliharaan.
*Setelah kira-kira 10 hari akan muncul micro organisms sebagai makanan teripang.
*Setelah kira-kira 10 hari akan muncul micro organisms sebagai makanan teripang.
Pemberian
makanan tambahan sebaiknya dilakukan pada sore hari.. Hal ini disesuaikan
dengan sifat hidup atau kebiasaan hidup dari teripang. Pada waktu siang hari
teripang tidak begitu aktif bila dibandingkan dengan pada malam hari, karena
pada waktu siang hari ia akan membenamkan dirinya dibawah dasar pasir/karang
pasir untuk beristirahat dan untuk menghindari/melindungi dirinya dari
pemangsa/predator, sedangkan pada waktu malam hari ia akan lebih aktif mencari
makanan, baik berupa plankton maupun sisa-sisa endapan karang yang berada
didasar perairan tempat hidupnya.
d. Padat penebaran
Teripang
dapat hidup bergerombol dilempat yang terbatas. Oleh karena itu dalam usaha
budidayanya dapat diperlakukan dengan padat penebaran yang tinggi. Untuk ukuran
benih teripang sebesar 20 – 30 gram per ekor, padat penebaran berkisar antara
15 – 20 ekor per meter persegi, sedangkan untuk benih teripang sebesar 40 – 50
gram per ekor, padat penebarannya berkisar antara 10 – 15 ekor per meter
persegi.
Waktu
yang tepat untuk memulai usaha budidaya teripang disuatu lokasi tertentu ialah
2-3 bulan setelah waktu pemijahan teripang di alam (apabila menggunakan benih
dari alam). Benih alam yang berumur 2 sampai 3 bulan diperkirakan sudah
mencapai berat 20 – 50 gram per ekor.
Pasca
Budidaya
Teripang
Pemungutan
hasil atau panen dapat dilakukan setelah teripang mencapai ukuran pasar
(marketing size), yaitu berkisar antara 4-6 ekor/kg (berat basah). Untuk
mendapatkan ukuran ini biasanya teripang dipelihara selama 6-7 bulan dengan
sintasan yang dicapai kurang lebih 80% dari total penebaran awal. Panen
dilakukan pada pagi hari sewaktu air sedang surut dan sebelum teripang
membenamkan diri. Panen dapat dilakukan secara:
1. Panen selektif
ialah dengan memilih teripang yang telah mencapai ukuran pasar degan berat
rata-rata sekitar 200 g/ekor.
2. Panen total ialah
dengan memungut semua teripang dari areal budidaya, kemudian diseleksi menurut
ukuran.
Sebelum
dipasarkan, teripang terlebih dahulu diproses agar diperoleh kualitas produk
yang memenuhi standar pasar. Beberapa tahapan yang dilakukan dalam pengolhan
teripang hingga siap untuk dipasarkan adalah sebagai berikut:
1. Teripang hasil
panen dicuci terlebih dahulu dengan air bersih, kemudian direndam dengan air
campuran daun pepaya selama kurang lebih 15 menit. Rendaman ini dimaksudkan
untuk me;arutkan zat kapur pada bagian kulit luar teripang.
2. Teripang yang
sudah di rendam dengan air campuran daun pepaya dibersihkan dengan cara
mengelupas kulit bagian luarnya (zat kapur).
3. Selanjutnya
teripang direbus sampai mendidih selama 1 jam, lalu didinginkan sambil
ditiriskan airnya.
4. Setelah dingin,
teripang dibelah pada bagian abdomennya untuk mengeluarkan isi perutnya. Pada
saat pembedahan diusahakan agar tidak banyak melukai otot-oto bagian tubuh
teripang.
5. Setelah isi perut
dikeluarkan, maka teripang siap untuk dipanggang dengan cara pengasapan hingga
kering.
6. Lama pengasapn
berkisar antara 3-5 jam, setelah itu teripang diikat kembali agar bekas
pembedahan pada bagian abdomen tertutup kembali.
7. Teripang yang
sudah diikat siap untuk dipacking dan proses pengemasannya perlu diperhatikan
beberapa hal seperti bahan pengukus harus bersih, kering dan tidak mudah sobek.
Sumber
: https://ibnufaizal.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar