BUDIDAYA
LABI LABI

A. Pengenalan Jenis
Labi-labi atau bulus merupakan
salah satu jenis sumberdaya ikan golongan reptilia dan sebagai salah
satu sumber daya ikan yang dapat dimanfaatkan sebagai
sumber gizi dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan . Disisi
lain manfaat labi-labi tidak sebatas kebutuhan pangan saja namun mempunyai
nilai tambah sebagai bahan obat yang berkhasiat. Nilai tambah inilah yang
menjadikan labi-labi sebagai komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekonomis
cukup tinggi.
Ciri
khas yang dimiliki labi-labi sebagai salah satu bangsa kura-kura (Ordo
Testudinata) adalah perisai punggungnya/batok tidak tertutup oleh zat tanduk,
tetapi ditutupi oleh kulit yang tebal sehingga kura-kura ini dikelompokkan ke
dalam Sub ordo Cryptodera famili Trionichydae atau dalam istilah Inggrisnya
dinamakan Soft-Shelled Turtle yang berarti kura-kura bercangkang lunak.
Akhir-akhir
ini permintaan ekspor semakin meningkat khususnya dari negara-negara
Singapura, China, Hongkong, Taiwan dan Jepang. Hingga saat ini ekspor labi-labi
dari Indonesia masih didominasi oleh hasil tangkapan dari alam. Hal ini
terbukti dari banyaknya perusahaan pengekspor labi-labi hanya sebagai penampung
hasil tangkapan dari alam saja. Mengingat lambatnya perkembangan populasinya di
alam, maka kondisi yang demikian ini apabila tidak diimbangi dengan usaha
pembudidayaan, maka dikhawatirkan dengan semakin tingginya tingkat eksplorasi
terhadap labi-labi akan dapat menimbulkan penurunan populasi yang dapat
mengancam kelestariannya.
Di
Indonesia telah ada usaha pembudidayaan labi-labi, namun jumlahnya masih
terlalu sedikit. Maka dalam rangka menjaga kelestarian populasi labi-labi di
alam sekaligus dalam upaya pengembangan usaha budidaya
labi-labi perlu melibatkan peran aktif masyarakat secara luas
melalui pengembangan usaha budidaya labi-labi sehingga dapat lebih berkembang.
Lebih lanjut diharapkan melalui usaha budidaya labi-labi ini , maka pendapatan
masyarakat melalui sub sektor perikanan akan semakin meningkat dan devisa
negara akan semakin
bertambah.
Nama labi-labi (Trionyx
sinensis) juga dikenal untuk spesies Trionyx cartilagineousdan
spesies Trionyx lainnya. Labi-labi atau bulus dipelihara di
dalam kolam. Awalnya, bulus termasuk hama, sama seperti belut. gabus, dan
komoditi penting lainnya. Bulus memiliki nilai ekonomis tinggi. Hampir seluruh
bagian tubuh labi-labi dapat dimanfaatkan, baik daging maupun cangkangnya.
Selama ini pasokan labi-labi dipenuhi dari tangkapan alam karena hasil budi
daya belum signifikan jumlahnya.
Bentuk
tubuh bulus oval atau agak lonjong, dan pipih. Tubuhnya tanpa sisik dan
berwarna abu-abu kehitaman. Kerapas dan plastron (bagian bawah tubuh yang tidak
tertutup cangkang) terbungkus kulit yang liat.
Pastronnya
berwarna putih pucat hingga kemerah-merahan. Kulit tertutup oleh perisai yang
berasal dari lapisan epidermis berupa zat tanduk. Hidungnya memanjang membentuk
tabung, seperti belalai. Labi-labi tidak bergigi, tetapi rahangnya sangat kuat
dan tajam.
B. Kebiasaan Hidup di Alam

Labi-labi
bernapas dengan paru-paru (pulmo), baik yang baru menetas maupun labi-labi
dewasa.
1. Kebiasaan makan
Labi-labi
memakan ikan dan udang kecil di alam. Di kolam, labi-labi bisa diberikan pakan
berupa cincangan ikan atau isi perut ternak ruminansia.
2. Kebiasaan berkembang biak
Di
alam, labi-labi umumnya berpijah antara Juli—Desember. Labi-labi berkembang
biak dengan cara bertelur (ovivar). Setiap kali labi-labi bertelur mencapai
10-30 butir. Telur berwarna krem dengan diameter antara 2-3 cm. Telur-telur
yang dikeluarkan ditimbun dalam tanah berpasir selama lebih kurang 45-50 hari
pada suhu 25-30 derajat C.
C. Memilih Induk
Labi-labi
yang hendak dipijahkan di kolam pemijahan harus memenuhi persyaratan khusus, di
antaranya umur dan ukuran. Selain itu, perbandingan antara induk jantan dan
betina harus tepat. Adapun ciri induk jantan dan betina yang baik sebagai
berikut.
Ciri
induk yang berkualitas
Betina
-
Umur sudah mencapai 2 tahun atau lebih.
-
Ukuran tubuhnya lebih kecildibandingkan jantan.
-
Ekor induk betina pendek dan tidak menonjol keluar dari cangkangnya.
-
Bentuk cangkangnya lebih bulat dan lebih tebal.
-
jarak antar kedua kaki belakang lebih panjang, karena erat kaitannya dengan
proses bertelur.
-
Alat kelamin tumpul.
jantan
-
Umur sudah mencapai 2 tahun atau lebih.
-
Ukuran tubuhnya lebih besar dibandingkan betina, kadang-kadang dua kali
besarnya.
-
Ekor induk jantan lebih panjang dan menonjol keluar dari cangkangnya.
-
Bentuk cangkangnya lebih oval dan dan lebih tipis.
-
jarak antar kedua kaki belakang lebih pendek.
-
Alat kelamin lancip.
D. Pemijahan ahan di Kolam
Dalam
pemijahan labi-labi di kolam perlu diperhatikan faktor-faktor penting lainnya,
seperti konstruksi kolam, persiapan kolam, dan proses pemijahannya.
1.
Konstruksi kolam
Kolam
pemijahan labi-labi berbentuk persegi panjang. Luas kolam tergantung lahan yang
tersedia, umumnya antara 200-300 m2 dengan ketinggian pematang 1,5-1,75 m.
Dasar kolam sebaiknya dilapisi pasir, sedangkan dinding pematang diusahakan
tembok.
Pada
salah satu sisi kolam dibuatkan kandang peneluran seluas 2 M X 2 m x 1 m
sebanyak 3 buah. Kandang ini dihubungkan dengan jembatan penghubung yang
terbuat dari anyaman bambu atau papan. Tujuan pembuatan jembatan adalah untuk
memudahkan induk labi-labi masuk ke dalamnya. Kandang peneluran sebaiknya
dilengkapi peneduh untuk melindungi telur dari sengatan matahari langsung dan
hujan. Dasar kandangnya dilengkapi dengan pasir halus setebal 20 cm agar induk
mudah menyembunyikan telur-telurnya.
2.
Persiapan kolam
Kolam
pemijahan dikeringkan 3-5 hari. Kandang tempat pemijahan labi-labi diupayakan
terkena sinar matahari langsung agar bibit penyakit mati. Selanjutnya, induk
dimasukkan ke dalam kolam. Adapun perbandingan induk jantan dan betina yang
dikawinkan 1: 4. Artinya, seekor pejantan labi-labi diharapkan bisa mengawini 4
ekor induk labi-labi betina.
3.
Pemijahan
Pemijahan
biasanya terjadi pada 7-12 hari setelah penebaran induk. Induk akan bertelur
pada malam hari, antara pukul 20.00-02.00. Seekor induk betina biasanya akan
menghasilkan 30-40 butir telur. Bentuk telur labi-labi seperti bola pingpong
berwarna krem dan ukuran telur biasanya berdiameter antara. 1-3 cm.
Telur
yang selesai dikeluarkan oleh induk harus segera dipindahkan ke dalam ruang
inkubator atau ruang penetasan telur. Sementara telur yang di dalam timbunan
pasir bisa dikeluarkan dengan menggunakan tangan atau alat bantu seperti sekop.
E. Penetasan Telur dan Perawatan Benih
Telur-telur
disusun secara teratur di dalam kotak penetasan yang diisi pasir setebal 5 cm.
Kotak tersebut berukuran 40 cm x 6o cm x 5 cm. Selain itu, disediakan juga
baskom berisi air yang dipasang sejajar dengan permukaan lantai. Baskom ini
akan dibutuhkan oleh tukik setelah keluar dari cangkang.
Selama
proses penetasan, suhu ruangan diusahakan antara 29-33 derajat C dengan
kelembapan 85-95%. Telur akan menetas setelah 40-45 hari pada suhu 30 derajat
C. Namun, kadang-kadang telur akan menetas setelah 60 hari.
Setelah
menetas, tukik langsung mencari air yang sudah disediakan di dalam baskom
tersebut. Berat tukik yang menetas berkisar 7-9,3 g/ekor. Tukik yang baru
menetas belum membutuhkan pakan dari luar karena menyerap sari makanan dari
yolk sack yang dibawanya sejak lahir.
F. Pendederan
Setelah
hari kelima, tukik ditangkap untuk dipindahkan ke kolam pendederan. Luas kolam
pendederan biasanya sekitar l00-600 m2, tergantung lahan yang tersedia. Dasar
kolam pendederan berpasir dengan ketinggian air berkisar 50-75 cm. Kolam yang
airnya terlalu dalam, akan menyulitkan labi-labi untuk mengambil oksigen
langsung dari udara.
Kepadatan
kolam penebaran 45-50 ekor /m2• Lama pemeliharaan tukik di kolam tersebut
selama 2 bulan. Selama pemeliharaan, tukik diberi pakan berupa cincangan daging
ikan. Pakan yang diberikan sebanyak 5% dari berat labi-labi yang ditebarkan.
Pakan tersebut ditempatkan di tepian kolam, pada batas permukaan air kolam.
Pemberian pakan dilakukan pagi dan sore hari.
Labi-labi
suka berjemur sehingga 1/3 bagian kolam diberi tanaman peneduh berupa eceng
gondok. Selain itu, beberapa bagian kolam diberi tempat berjemur dari papan
yang bisa mengapung.
G. Pembesaran
Luas
kolam pembesaran bervariasi antara 100-600 m2. Kolam yang terlalu besar akan
menyulitkan pengontrolan, sedangkan kolam yang
terlalu
kecil kurang efektif karena jumlah labi-labi muda yang ditebarkan jumlahnya
sedikit. Ketinggian air kolam pembesaran minimal 75 cm.
Tukik
yang ditebarkan ke dalam kolam pembesaran berumur 2 bulan. ukurannya seragam.
Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari agar tukik tidak stres. Kepadatan
penebaran yaitu 8-10 ekor/m2.
Untuk
mencapai ukuran 300-600 g/ekor, seekor tukik membutuhkan waktu 3-6 bulan. Panen
biasanya dilakukan setelah dipelihara selama 6-7 bulan dengan berat 700-800
g/ekor. Untuk mencapai
ukuran dewasa, tukik
membutuhkan waktu 2-3 tahun. Pembesaran lebih lanjut hanya dilakukan untuk
menghasilkan induk labi-labi sebab ukuran konsumsi yang paling dikehendaki
konsumen yaitu 700-800 g/ekor, kurang dari 1 kg.
Sumber :
A. Maswardi, C. Harimurti Adi, S. Hanif dan A.J. Pamungkas, 1996. Budidaya Labi-labi. Balai Budidaya Air Tawar- Sukabumi.
A. Maswardi, H. Sutomo
dan A.J. Pamungkas, 1996. Prospek Pembenihan
Labi-labi (Trionyx sp.). Balai Budidaya
Air Tawar- Sukabumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar