PENGOLAHAN UBUR UBUR

Ubur-ubur
ditemukan hampir di seluruh perairan (laut) Indonesia dan jenisnya sangat
banyak. Biologi berbagai jenis ubur-ubur belum banyak diungkapkan, terutama
mengenai migrasi, tingkat kedewasaan, musim dan lain-lain. Berdasarkan lokasi
tertangkapnya, ubur-ubur yang telah diusahakan adalah yang tertangkap di
perairan laut Cina Selatan (Riau dan Kalimantan Barat), Laut Jawa (sepanjang
pantai utara Jawa), lautan Indonesia (perairan Cilacap) dan di perairan
Indonesia Timur (Ambon). Di perairan Maluku Utara khususnya di Teluk Kao dan
Bacan banyak terdapat ubur-ubur atau yang lebih dikenal dengan Jelly Fish.
Musim ubur-ubur di berbagai daerah tersebut dari tahun ke tahun sangat tidak
menentu dan belum dapat diramalkan.
Potensi
ubur-ubur di Indonesia cukup besar karena negara ini adalah negara maritim,
luas perairan laut Indonesia diperkirakan 5,8 juta km2 dengan garis pantai
terpanjang di dunia yaitu sepanjang 81.000 km. Untuk komoditas Ubur-ubur,
produksi yang dapat dihasilkan diperkirakan berkisar antara 100 sampai dengan
500 ton/bulan.
Di
Cina, ubur-ubur merupakan pangan tradisional yang penting, dan penyajiannya
dengan mengiris ubur-ubur dan membentuknya seperti bunga atau daun. Secara
komersial, ubur-ubur dibagi dalam 2 tipe, tipe putih yang diedarkan ke bagian
timur dan tenggara, dan jenis lainnya adalah tipe merah dengan harga lebih
tinggi. Ubur-ubur ini disajikan dengan mencelupnya ke dalam air supaya
teksturnya lebih lembut, kemudian dipotong memanjang. Ubur-ubur mempunyai
tekstur yang renyah dan elastis. Ubur-ubur biasanya dicelup kedalam minyak
wijen, kecap, cuka dan gula. Di Jepang, asinan ubur-ubur disajikan dengan
sayuran seperti kol, slada, mentimun, dengan teripang atau telur ikan hering.
Sebelum
disajikan, ubur-ubur biasanya dikurangi kadar garamnya lebih dahulu dan dijual
sebagai bahan siap saji dan hal ini sangat membantu, terutama bagi konsumen
yang sibuk. Ubur-ubur slice akhir-akhir ini dijual di supermarket bersama
dengan bumbu seperti kecap, cuka sebagai bahan siap saji. Ubur-ubur asin sebagai
bahan pangan biasanya digunakan sebagai campuran dalam penyajian rujak/asinan,
salad, mi, dan lain-lain (Arifuddin, 2007). Produk ubur-ubur juga mengandung
kolagen dan dipasarkan terutama untuk pembuatan sup.
Sebagai
tambahan, ubur-ubur dapat juga digunakan sebagai obat dan dipercaya dapat
menyembuhkan arthritis, tekanan darah tinggi, back pain, sakit mag, juga
melembutkan kulit serta meningkatkan pencernaan. Kolagen berguna untuk
meningkatkan kesehatan tubuh karena merupakan bahan yang penting dalam pembentukan
jaringan, tulang, tulang rawan, dan untuk pengobatan.
Keunggulan
dan permintaannya di pasaran
Dari data statistik perikanan, pada jenis kelompok perikanan lainnya, ubur-ubur
adalah satu-satunya jenis yang diperdagangkan. Berdasarkan indeks spesialisasi
perdagangan, terlihat bahwa ubur-ubur merupakan komoditas ekspor yang mapan.
Pada tahun 2007 produksi ubur-ubur sebesar 2.572 ton, sedangkan selama tahun
2007-2008 ubur-ubur diekspor ke negara Ceko sebanyak 5.400 ton atau senilai
(US$) 15.804 (Poernomo, 2008)
Beberapa
jenis ubur-ubur yang terdapat di perairan Maluku Utara khususnya di Bacan dan
Kao adalah jenis-jenis ubur-ubur seperti jenis putih dan merah dimana
kebanyakan oleh nelayan lokal diolah dan di pasarkan ke luar daerah. Sampai
dengan tahun 2002 produksi ubur-ubur mencapai 9.764,1 ton dimana komoditas ini
masih diolah secara tradisional oleh masyarakat nelayan. Jumlah produksi untuk
komoditas ini diperkirakan antara 10 sampai 50 ton perbulan, namun sampai saat
ini belum ada perusahaan investor yang menangani masalah pemasaran baik
nasional maupun global sehingga jenis komoditas ini hanya dipasarkan untuk
kebutuhan lokal. Dengan demikian maka peluang usaha untuk pengembangan
komoditas ubur- ubur ini masih sangat terbuka luas.
Di
beberapa perairan tropis, ubur-ubur sering bersama karang dan anemone laut, di
Asia timur dan Asia tenggara minimal ada 5 jenis yang di eksploitasi. Di Asia
tenggara sebagian besar ubur-ubur mempunyai potensi yang cukup besar yang
diproses dan dipasarkan ke Jepang. Dipercaya bahwa yang pertama mengolah
ubur-ubur adalah orang Cina, serta menjadikannya sebagai makanan untuk konsumsi
manusia. Sekarang Jepang merupakan konsumen terbesar dari ubur-ubur walaupun
produksi dalam negerinya rendah. Selain itu, konsumen terbesar lainnya adalah
Cina dan Korea.
Teknologi
yang digunakan dalam pengolahan ubur-ubur
Ubur-ubur asin merupakan salah satu olahan tradisional hasil perikanan yang
sebagian besar produknya ditujukan untuk diekspor, sedangkan konsumsi produk
ini di dalam negeri relatif kecil jumlahnya, karena konsumennya masih terbatas.
Pengolahan ubur-ubur secara tradisional memakan waktu sekitar 20-40 hari dimana
ubur-ubur diolah menggunakan garam. Isi perut dan lapisan lendir luar dibuang
sebelum penggaraman.
Proses
pengolahan akan menghilangkan cairan, bau busuk, pertumbuhan organisme
pembusuk, dan membuat ubur-ubur menjadi kering, agak asam, dan teksturnya
renyah. Dalam proses ini ubur-ubur kehilangan bobot menjadi tinggal 7-10% dari
bobot bahan mentah, di mana semula mengandung 95% air dan 4-5% protein, dan
produk ini juga mempunyai nilai kalori yang rendah. Hasil proses pengolahan
ubur-ubur membuat produk berwarna putih, agak kekuningan dan cenderung menjadi
kuning atau coklat pada penyimpanan yang cukup lama.
Di
Cina, proses pengolahan diikuti dengan desalted (pengeluaran garam) yaitu
dengan mencelup ke dalam air semalam untuk dikonsumsi dalam keadaan mentah.
Penyajian biasanya dengan mengiris panjang-panjang ditambah minyak sayur,
kecap, asam dan gula, atau salad dengan sayuran. Di Jepang, ubur-ubur yang
telah diawetkan dicuci, dipotong panjang-panjang dan disajikan dengan cuka
sebagai makanan penutup.
Pengolahan
ubur-ubur dimulai dengan membersihkan bagian mulut, kaki/tangan (tentacle), isi
perut dipisahkan dari badan/payung (medula) sebelum diolah. Badan dibersihkan,
tidak boleh menggulung dan harus flat/rata. Selanjutnya dicuci bersih dalam
larutan garam 3% atau air laut. Hal ini penting untuk membuang jamur-jamur yang
ada selama proses. Proses pengolahan selanjutnya adalah sebagai berikut:
Penggaraman
pertama
Ubur-ubur yang telah dibersihkan disusun dengan garam. Penggaraman ubur-ubur
dilakukan di dalam bak semen dengan ukuran tinggi 1-1,5 m dan dibiarkan selama
1 hari. Selama proses ini ubur-ubur kehilangan sekitar 35-40% dari kandungan
airnya.
Penggaraman
kedua
Penggaraman ubur-ubur dilakukan dengan menumpuk di dalam bak baru dan dibiarkan
sekitar 3-4 hari.
Penggaraman
ketiga
Penggaraman ubur-ubur dipindahkan ke dalam bak baru dan dibiarkan selama 5-6
hari. Pada jenis yang ukurannya besar, kaki mulut juga mempunyai nilai
komersial. Walaupun demikian, harganya masih di bawah dari bagian badannya.
Kaki mulut, biasanya disebut tangan, prosesnya dipisahkan dari badan/payung
pada waktu yang sama.
Penggaraman
keempat
Setelah penggaraman ketiga, di tiriskan. Bak diisi dengan larutan garam jenuh
(25%), dan ubur-ubur dibiarkan selama 4-5 hari
Pengeluaran
cairan Selama tahap ini ubur-ubur asin ditumpuk dengan ketinggian 60-70 cm di
atas meja penirisan yang dialasi lembaran plastik. Pada proses ini, garam
(3-10% dari bobot ubur-ubur) ditebarkan di atas ubur-ubur secara individual.
Cairan ubur-ubur akan keluar selama 4-6 hari. Mungkin lebih baik memindahkan
bagian atas ke bawah untuk mencegah menggenangnya cairan. Kandungan air
terakhir adalah sekitar 60-65%.
Pengepakan
dan penyimpanan
Ubur-ubur yang telah diolah dipisahkan ukurannya sesuai diameter dan dipak di
dalam lembaran plastik dan dimasukkan ke dalam peti kayu. Produk disimpan pada
suhu 2-5oC. Menyimpan produk pada suhu 20oC akan menyebabkan produk menjadi
lembek dibanding jika disimpan pada suhu 0oC, karena tekstur akan berubah.
Penimbangan dilakukan sebelum dipak, mengingat produk akan kehilangan bobot
selama penyimpanan. Ubur-ubur disortir sesuai diameternya, grade 1 dengan
diameter lebih dari 33 cm, grade 2 diameter 25-33 cm, grade 3 diameter 17-25
cm, dan grade 4, dengan ukuran yang lebih kecil. Cina mengekspor ubur-ubur
dalam kotak kayu dengan bobot sekitar 20-50 kg. Sedangkan India membedakan
dalam grade A (diameter sekitar 18 inchi) grade B (sekitar 12 inchi), dan grade
C (dibawah 8 inchi). Ubur-ubur kering dipak dengan vinil atau polietilin
sekitar 50 kg dalam kotak kayu. Sekitar 5-10 kg harus ditambahkan untuk
mengantisipasi kehilangan bobot selama transportasi. Ubur-ubur asin dijual
dalam bentuk kering atau direndam.
Faktor-faktor
yang perlu diperhatikan dalam pengolahan ubur-ubur
Sifat bahan mentah ubur-ubur sangat mudah mengalami kerusakan fisik dan cepat
membusuk. Ubur-ubur yang telah mengalami kemunduran mutu atau busuk sangat
lunak dan mudah hancur, jika ubur-ubur dengan mutu rendah diolah maka akan
memberikan hasil yang kurang baik (berbau busuk dan rendah rendemennya).
Penanganan ubur-ubur segar (bahan mentah) sebaiknya segera setelah diangkat
dari laut dengan cara menaburkan sejumlah garam.
Peluang
untuk industrialisasi
Pada umumnya ubur-ubur diekspor dalam bentuk frozen, dan telah mengalami
sedikit perlakuan sebelumnya. Secara teknis sulit untuk mengekspor ubur-ubur
dalam kondisi hidup atau segar, mengingat bentuk fisik dan sifat biologis dari
spesies ini. Pengolahan ubur-ubur tidak memerlukan peralatan yang rumit dan
tidak memerlukan penjemuran, tetapi seluruh peralatan yang digunakan harus
tahan karat. Proses produksinya memakan waktu sekitar 40 hari. Skala
pengusahaannya tidak terbatas, dapat kecil atau besar, asalkan tersedia
peralatan, tenaga dan ruangan yang diperlukan (Hsieh, et. al, 2004).
Komposisi
dan nilai gizi ubur-ubur
Menurut Hsieh, et. al., (2001), ubur-ubur mempunyai kalori yang rendah, tidak
mengandung lemak, kolesterol, dan gula. Jumlah kalori untuk 100 gram ubur-ubur
yang disajikan kurang dari 20 kcal. Ubur-ubur siap saji mengandung sekitar 95%
air dan 4-5% protein, terutama kolagen.
Sumber :
https://raheemtabet.wordpress.com/2013/04/25/ubur-ubur-sebagai-komoditas-dan-cara-pengelolaannya/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar