TEKNIK
BUDIDAYA ABALONE
(Haliotis asinina)

Abalon merupakan komoditas perikanan bernilai tinggi, khususnya di
negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara. Biota laut ini dikonsumsi segar
atau kalengan. Di Indonesia, jenis siput ini belum banyak dikenal masyarakat
dan pemanfaatannya baru terbatas di daerah-daerah tertentu, khususnya di daerah
pesisir.
Seleksi Benih
Siap Tebar
Kriteria benih siap tebar untuk budidaya kerang
abalone adalah sebagai berikut:
– Ukuran benih relatif seragam yaitu 1 cm/ekor (ukuran panjang
cangkang).
– Telah mampu memanfaatkan pakan rumput laut segar sebagai makanannya,
seperti Gracilaria sp atau Ulva sp.
– Sensitif terhadap respon dari luar.
Benih kerang abalone
yang sehat akan cepat merespon ransangan dari luar. Tanda-tanda yang diberikan
adalah sebagai berikut:
* kerang abalone yang cenderung melekat kuat pada substrak jika
disentuh
* jika direndam dalam air tawar akan mengkerut dan mengeras, dan apabila
dikembalikan ke air laut akan cepat melakukan pergerakan.
* jika dipegang terasa kenyal dan padat serta tidak lemas.
– Cangkang tidak pecah atau cacat.
– Tidak terdapat luka pada bagian badan/daging.

Padat Tebar dan
Aklimatisasi
Aklimatisasi mutlak dilakukan sebelum penebaran
kedalam wadah budidaya. Tindakan ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko
kegagalan (kematian) saat awal pemeliharaan. Perubahan lingkungan secara
tiba-tiba akan dapat menimbulkan stress pada biota, bahkan dapat mengakibatkan
kematian. Karena itu, lakukanlah aklimatisasi terlebih dahulu sebelum
penebaran. Tingkat padat tebar dan cara aklimatisasi pada ke dua metode adalah
sebagai berikut:
a. Metode Pen-culture
Pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasar dalam
penentuan padat tebar pada metode pen-culture, selain sifat dan tingkah laku kerang
abalone adalah kondisi perairan saat surut terendah yang dapat berlangsung
beberapa saat. Pada saat surut, kuantitas air yang berada dalam pen-culture
sangat minim serta kemungkinan tidak terjadi pertukaran air. Keadaan ini sangat
mengkwatirkan jika dilakukan dalam penebaran tinggi. Oleh karena itu, padat
tebar metode pen-culture sebaiknya berkisar antara 100-150 ekor/m2.
Cara aklimatisasi pada metode ini yaitu dengan cara
aklimatisasi dalam bak terlebih dahulu dengan mempergunakan media air dari lokasi
pen-culture. Kantong diapungkan beberapa saat (15-20 menit), kemudian dibuka
dan dimasukkan air perlahan-lahan. Tebar benih abalone kedalam bak selama 20-30
menit dengan keadaan sirkulasi air.
Penebaran dalam pen-culture dapat dilakukan setelah
kerang abalone terlihat telah dapat menerima kondisi linkungan yang baru,
ditandai dengan gerak aktif kerang abalone untuk mencari tempat bersembunyi.
Penebaran dilakukan pada saat air mulai pasang yang ditebar merata dalam
pen-culture (dibeberapa tempat).
b. Metode KJA
Berbeda dengan metode KJA, padat tebar bisa lebih
tinggi. Tingginya padat penebaran pada metode ini dikarenakan sirkulasi air
selalu terjamin setiap saat sehingga kualitas air lebih terjamin. Pada metode
ini, yang harus dipertimbangkan selain sifat dan tingkah laku kerang abalone
serta sirkulasi air adalah luas permukaan substrak. Hal ini erat kaitannya
dengan penyebaran kerang abalone. Dengan percobaan yang telah dilakukan oleh
Loka Budidaya laut-Lombok, padat tebar metode KJA sebaiknya berkisar antara 350-400
ekor/m2.
Cara aklimatisasi di KJA dapat dilakukan dalam bak
ataupun langsung didalam wadah pemeliharaan. Kantong yang berisi benih
diapungkan dalam wadah pemeliharaan 15-20 menit, kantong dibuka dan dimasukkan
air dari luar kantong secara perlaha-lahan hingga hampir penuh, balik bagian
dalam kantong menjadi luar kantong dan biarkan benih kerang abalone lepas
dengan sendirinya. Setelah beberapa saat, benih kerang abalone yang masih
menempel pada kantong segera dilepas dan dimasukkan kedalam wadah pemeliharaan.
Pakan dan Pemberian
Pakan
Pakan merupakan salah satu faktor yang paling penting
dalam menunjang keberhasilan budidaya kerang abalone, kelangsungan hidup dan
pertumbuhan. Ketepatan jenis pakan yang diberikan menjadi pertimbangan utama
dalam pemberian pakan. Jenis pakan kerang abalone adalah seaweed yang biasa
disebut makro-alga, namun tidak semua dapat dimanfaatkan dengan baik sebagai
sumber makanan. Saat ini, pakan yang terbaik yang diberikan adalah Gracilaria sp
yang merupakan makanan favorit untuk kerang abalone. Selain Gracilaria sp,
jenis seaweed yang yang lain juga dapat diberikan, seperti Ulva sp.
Saat pemberian pakan, perlu diperhatikan kebersihan dan kesegaran pakan. Hal
ini bertujuan untuk menghindari adanya predator-predator yang terbawa dan
menghindari pakan yang hampir/telah mati yang nantinya akan membusuk dan
menimbulkan racun bagi kerang abalone.
Pada metode pen-culture, pemberian pakan dilakukan
jika ketersediaan pakan yang sebelumnya telah ditumbuhkan dalam wadah terlihat
mulai sedikit. Pemberiannya dilakukan pada saat air sedang surut dengan cara
menyelipkan antara jejeran genteng. Jumlah setiap penambahan pakan yang
diberikan sebanyak 25-30 kg berat basah/unit pen-culture.
Pemberian pakan pada metode KJA berbeda dengan metode
pen-culture. Pada metode KJA, frekuensi pemberian pakan dilakukan 2-3 hari
sekali sebanyak 2-5kg/unit wadah. Kelebihan dalam pemberian pakan pada
metode KJA akan menimbulkan bahaya yaitu matinya sebagian Gracilaria sp
dalam wadah yang menimbulkan bau busuk yang kemungkinan besar mengandung bahan
beracun (seperti NH3 dan H2S) yang dapat bersifat
racun dan mematikan. Oleh karena itu, pengelolaan dan pengontrolan pakan harus
dilakukan dengan tepat.
Pertumbuhan,
Kelangsungan Hidup dan Konversi Pakan
Kerang abalone adalah hewan yang sangat lambat tumbuh.
Untuk mencapai ukuran diatas 8cm/ekor dengan berat 30-40gr/ekor, dibutuhkan
masa waktu pemeliharaan 12-14 bulan dengan ketersediaan pakan yang selalu
cukup. Pada awal pemeliharaan, pertumbuhan panjang cangkang sejalan dengan
pertumbuhan berat hingga mencapai ukuran cangkang 4cm dengan berat
11,5-13,37gr. Setelah mencapai ukuran diatas 4cm, pertumbuhan lebih mengarah
terhadap pertumbuhan berat. Kelangsungan hidup kerang abalone yang dicapai
dalam masa pemeliharaan 12-14 bulan sebesar 55-63%.
Sifat kerang abalone yang sangat rakus namun lambat
tumbuh mengakibatkan tingginya nilai konversi pakan (Feeding Convercation of
Ratio; FCR) yang dapat mencapai 27-29, artinya untuk meningkatkan berat
badan sebesar 1 gr, kerang abalone harus memakan makanan sebanyak 27-29gr.
Pengontrolan dan
Pergantian waring.
Gerakan kerang abalone yang sangat lambat juga
merupakan suatu titik kelemahan, yaitu mudahnya predator-predator untuk
memangsanya. Dengan adanya tindakan pengontrolan, predator-predator dapat
langsung dimusnahkan dengan cara pengambilan langsung dari dalam wadah
budidaya.
Pada metode pen-culture, pengontrolan sangat sulit
untuk dilakukan dikarenakan ketergantungan pada surutnya air laut dan desain
substrak yang cukup sulit untuk menemukan adanya predator. Salah satu cara
untuk mencegah adanya predator adalah desain pen-culture yang rapat sehingga
tidak terdapat lubang/tempat masuknya predator serta melakukan pengontrolan
secara menyeluruh setiap 3 atau 4 bulan sekali dengan cara membongkar susunan
substrak. Hal ini juga bertujuan untuk memperbaiki kembali susunan substrak.
Dinding pen-culture yang terbuat dari waring sangat
mudah kotor akibat dari sedimen yang terbawa dalam badan air serta
tumbuhan biofouling(tumbuhan penempel) yang dapat mennganggu
sirkulasi air. Selain itu, waring yang telah kotor akan lebih mudah sobek dikarenakan
tertahannya arus hempasan ombak. Oleh karena itu pergantian waring perlu untuk
dilakukan minimal 1 bulan sekali.
Pada metode KJA, pengontrolan terhadap predator lebih
mudah untuk dilakukan. Pengontrolan dapat dilakukan minmal 3-4 hari sekali atau
sebelum pemberian pakan dengan cara mengangkat wadah budidaya ke permukaan.
Predator-predator dapat segera dimusnahkan serta kerang abalone yang sakit
dapat dilakukan tindakan pengobatan. Untuk memperlancar sirkulasi air dalam
wadah, pergatian wadah/waring minimal dilakukan setiap bulan.
Hama dan
Penyakit
Hama
Hama merupakan hewan pengganggu dan pemangsa
dalam budidaya kerang abalone. Jenis hama yang terdapat dalam wadah budidaya
kerang abalone diberdakan menjadi 3 golongan, yaitu; 1) hama pengganggu; 2)
penyaing; dan 3) pemangsa/predator. Diantara ke tiga golongan hama tersebut,
predator merupakan hama yang sangat berbahaya terhadap kehidupan kerang
abalone.
Teritip harus selalu dibersihkan sebagai tindakan
pencegahan akan terjadinya luka, karena cangkangnya yang runcing dan tajam.
Teritip akan menjadi masalah jika terdapat dalam jumlah banyak pada substrak,
selain sebagai penyaing oksigen juga akan menyulitkan kerang abalone untuk
bergerak leluasa dan bahkan dapat tumbuh pada cangkang kerang abalone.
Masuknya hama dapat melalui
lubang-lubang yang terdapat pada wadah ataupun melalui makanan yang diberikan.
Oleh karena itu, tindakan penanggulangan dan pemberantasan perlu dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
a. Pakan yang diberikan harus dalam keadaan bersih dari
partikel yang melekat ataupu hewan lainnya.
b. Pengontrolan dalam wadah budidaya secara
kontinyu/periodik.
c. Pemusnahan hama yang ditemukan didalam maupun diluar
wadah budidaya.
d. Pengontrolan terhadap keadaan wadah.
Penyakit
Penyakit pada kerang abalone akan timbul saat kondisi
kerang abalone menurun akibat adanya perubahan suatu keadaan tertentu, seperti
lingkungan yang kotor menyebabkan kualitas air menurun yang menimbulkan stress
pada kerang abalone atau penanganan yang kurang hati-hati yang dapat
menimbulkan luka. Pada keadaan seperti ini, kerang abalone sangat riskan
terhadap serangan penyakit.
Pada metode KJA, penyebab lingkungan yang kotor sering
kali disebabkan oleh pemberian pakan yang terlalu banyak. Pakan tersebut akan
membusuk jika tidak habis dalam waktu 3-4 hari. Oleh karena itu, pemberian
pakan yang berlebihan harus dihindari serta kesegaran pakan yang diberikan
tetap terjamin.
Penyakit yang menyerang kerang abalone, saat masih
terus di identifikasi untuk mengetahui penyebabnya. Salah satu gejala yang
ditimbulkan adalah timbulnya warna merah seperti karat pada bagian selaput
gonad (bagian bawah cangkang). Kerang abalone yang mengalami gejala ini, dalam
waktu 5-6 hari lapisan selaput akan sobek, nampak lemas dan jika dipegang
sangat lembek (tidak dapat merespon ransangan luar) yang akhirnya mengalami
kematian. Tindakan pencegahan yang telah dilakukan saat ini adalah tindakan
karantina atau pemisahan pada tempat khusus sebelum selaput gonad
sobek/terpisah dari cangkang, kemudian dilakukan tindakan pengobatan dengan
cara pengolesan acriflavin atau betadine dalam dosis tinggi (500ppm) pada
selaput tersebut secara kontinyu selama 3 hari. Tindakan ini juga dilakukan
pada kerang abalone yang mengalami luka.
Tindakan-tindakan pencegahan terhadap penyakit
dapat dilakukan dalam beberapa cara, yaitu:
a. Hindari pemberian pakan yang berlebih
b. Pakan yang diberikan dalam keadaan segar dan bersih.
c. Pakan yang telah rusak/busuk segera dibuang dari wadah
budidaya.
d. Hindari luka akibat penanganan, baik saat pergantian
wadah maupun saat melepas dari substrak serta hindari penanganan yang dapat
menimbulkan stress.
e. Gunakan bahan yang elastis untuk melepas kerang
abalone dari substrak.
f. Ganti wadah dan bersihkan substrak dari biota yang
menempel, seperti teritip.
g. Ketersediaan pakan dalam wadah budidaya selalu
tersedia dan dalam jumlah yang cukup.
Sumber: juknis
abalone BBL Lombok
Tidak ada komentar:
Posting Komentar